MURATARA, Pribhumi.com – Warga Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, tengah dilanda keresahan akibat kemunculan harimau liar yang berkeliaran di sekitar perkebunan dan kawasan hutan. Satwa tersebut dilaporkan telah memangsa sedikitnya 17 ekor kerbau milik warga sejak April 2026.
Peristiwa itu terjadi di Desa Kuto Tanjung, Kecamatan Ulu Rawas. Dari total ternak yang menjadi korban, sebanyak 13 ekor merupakan milik warga Desa Kuto Tanjung dan empat lainnya milik warga Desa Napalicin.
Kemunculan harimau membuat masyarakat takut beraktivitas, terutama di area kebun yang berada dekat kawasan hutan. Warga mengaku beberapa kali melihat satwa tersebut berada tidak jauh dari permukiman.
Salah seorang warga Desa Kuto Tanjung, Fauzi, mengatakan keberadaan harimau mulai menimbulkan trauma di tengah masyarakat. Bahkan sejumlah warga disebut pernah berhadapan langsung dengan hewan buas itu saat berada di kebun.
“Warga sekarang khawatir karena harimau sudah sering terlihat di sekitar perkebunan. Ada juga yang melihat di dekat perkampungan, meski belum masuk ke permukiman,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Menurut Fauzi, informasi dari warga menyebut ada tiga ekor harimau yang berkeliaran di wilayah tersebut. Kondisi itu membuat sebagian warga memilih mengurangi aktivitas di kebun, terutama pada pagi dan sore hari.
“Orang tua saya pernah bertemu langsung dengan harimau itu dan sampai sekarang masih trauma untuk kembali ke kebun karet,” katanya.
Tak hanya mengganggu aktivitas warga, kemunculan harimau juga berdampak pada sektor wisata lokal. Kawasan Air Terjun Batu Ampar yang biasanya ramai pengunjung saat musim libur kini mulai sepi karena masyarakat takut datang ke lokasi.
Camat Ulu Rawas, M Darmawan, membenarkan adanya laporan kemunculan harimau tersebut. Ia menyebut satwa itu diduga berasal dari kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
“Kami sudah mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati saat beraktivitas di dekat kawasan hutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumsel, Yusmono, mengatakan pihaknya bersama TNKS telah beberapa kali turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan.
Menurutnya, sebagian besar ternak warga memang dilepas bebas hingga mendekati kawasan hutan yang menjadi habitat alami harimau.
“Kerbau-kerbau itu biasanya dilepas sampai jauh ke bukit dan kawasan hutan. Lokasinya memang berdekatan dengan habitat harimau di TNKS,” jelasnya.
Untuk memantau pergerakan satwa liar tersebut, petugas kini telah memasang kamera trap di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur lintasan harimau.
“Dari hasil identifikasi sementara, kemungkinan harimau itu masih berusia muda dan sedang mencari wilayah serta sumber makanan,” kata Yusmono.
BKSDA Sumsel juga mengimbau warga agar tidak lagi melepas ternak terlalu jauh ke kawasan hutan dan selalu berhati-hati saat beraktivitas di sekitar TNKS, terutama pada malam hingga pagi hari.
Editor : Safwandi., Dpt






