Gelar Haji: Warisan Kolonial atau Tradisi Islam yang Lebih Tua?

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jambi, Pribhumi.com — Perdebatan mengenai asal-usul gelar “Haji” kembali mencuat setelah muncul anggapan bahwa sebutan tersebut merupakan warisan kolonial Belanda. Narasi ini menyebutkan bahwa pada tahun 1916, pemerintah Hindia Belanda mulai mewajibkan penggunaan gelar Haji bagi umat Islam yang telah menunaikan ibadah ke Mekah. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengawasan, karena para haji dianggap memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.

Bahkan, ada pendapat yang lebih jauh menyatakan bahwa gelar Haji hanya dikenal di Indonesia. Namun, benarkah demikian?

Faktanya, penggunaan gelar Haji sudah jauh lebih tua dan tidak berasal dari masa kolonial. Sejarah mencatat bahwa gelar ini telah digunakan sejak era Dinasti Mamluk pada abad ke-13 Masehi. Gelar tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang telah menunaikan ibadah haji.

Baca Juga :  Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Struktur Paramenti Tigo Luhah Semurup Berpedoman pada ico Pakai

Salah satu contoh tokoh yang menggunakan gelar ini adalah Haji Bektash Veli, seorang ulama sufi terkemuka dari Turki yang hidup pada abad ke-13. Ini menunjukkan bahwa penggunaan gelar Haji telah dikenal luas di dunia Islam jauh sebelum kedatangan kolonialisme di Nusantara.

Di Indonesia sendiri, jejak penggunaan gelar Haji juga dapat ditelusuri sejak masa lampau. Salah satunya ditemukan pada nisan di wilayah Kesultanan Samudera Pasai dari abad ke-15 Masehi, yang memuat nama “Haji ‘Izzuddin bin Haji Isma’il Amirabadiy”. Selain itu, pada abad ke-17, dikenal pula tokoh Sultan Haji di Banten yang menggunakan gelar tersebut.

Di wilayah Jambi dan Kerinci, penggunaan gelar Haji juga tercatat dalam berbagai arsip sejarah. Surat-surat resmi dari Kesultanan Jambi pada abad ke-17 hingga 18 menyebut nama tokoh seperti Haji Abdul Latif dan Tuan Haji Imam Abdul Rauf. Bahkan, masyarakat Kerinci telah menggunakan gelar Haji secara luas sejak abad ke-19, seiring meningkatnya jumlah jamaah yang berangkat ke tanah suci.

Baca Juga :  Gunung Kerinci Masuk Daftar, Ini 7 Gunung Tertinggi di Indonesia

Terdapat pula catatan menarik berupa surat permohonan jamaah haji asal Kerinci di Hijaz kepada Sultan Turki, yang mengeluhkan campur tangan Belanda dalam urusan haji. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan haji masyarakat Nusantara telah berlangsung lama dan memiliki jaringan internasional.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gelar Haji bukanlah ciptaan kolonial Belanda. Gelar ini sudah lama menjadi bagian dari tradisi Islam global sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah menunaikan rukun Islam kelima. Meski demikian, pemerintah kolonial memang sempat mengatur penggunaan gelar tersebut secara administratif di Hindia Belanda.

Sumber Berita: Boedaya Kerinci

Berita Terkait

Wakapolda Jambi Bersama Tokoh Agama Hadiri Haul Akbar dan Harlah Al-Hidayah
Jadwal Lengkap Puasa Sunah Oktober–November 2026: Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dan Daud
Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
Sholat Sunnah Setelah Akad Nikah: Niat, Tata Cara dan Doa yang Dianjurkan
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 03:58 WIB

Wakapolda Jambi Bersama Tokoh Agama Hadiri Haul Akbar dan Harlah Al-Hidayah

Minggu, 18 Oktober 2026 - 19:28 WIB

Jadwal Lengkap Puasa Sunah Oktober–November 2026: Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dan Daud

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Berita Terbaru

Tips dan informasi

Audit Rumah Tasya Farasya Ungkap Besi dan Mutu Beton Tak Sesuai Spesifikasi

Kamis, 29 Okt 2026 - 11:03 WIB