Oleh: Safwandi., Dpt (Kepalo Sembah)
Bagi masyarakat Kerinci, tutur kata bukan hanya alat komunikasi, melainkan cerminan adat, martabat, dan kepribadian seseorang. Dalam kehidupan masyarakat adat Kerinci sejak dahulu, setiap ucapan selalu dijaga dengan penuh kehati-hatian. Karena itu, leluhur Kerinci mewariskan tradisi bertutur menggunakan bahasa kias, perumpamaan, petatah-petitih, dan ungkapan adat yang mengandung makna mendalam.
“Manusio menangkap kias binatang menangkap pukul“.
Tradisi ini lahir dari cara pandang masyarakat Kerinci yang menjunjung tinggi kesopanan dan keharmonisan sosial. Orang tua dahulu mengajarkan bahwa kata-kata dapat menjadi penyejuk, tetapi juga dapat menjadi sumber perselisihan apabila diucapkan tanpa pertimbangan.
“Tikam seribu tidak membunuh tikam seliang dibao mati“
Oleh sebab itu, menyampaikan nasihat, teguran, maupun kritik dilakukan dengan cara halus melalui bahasa kias agar tidak melukai hati orang lain.
Dalam adat Kerinci dikenal prinsip bahwa berbicara harus “bertimbang rasa”. Direnung dulu baru bicaro.
Maksudnya, setiap ucapan harus memperhatikan perasaan, kedudukan, dan situasi orang yang diajak berbicara. Karena itu, masyarakat Kerinci tidak terbiasa menyampaikan sesuatu secara kasar atau terang-terangan, terutama dalam urusan adat dan kekeluargaan.
Bahasa kias menjadi bagian penting dalam musyawarah adat, penyelesaian sengketa, hingga pertemuan keluarga. Para depati, ninik mamak, dan tokoh adat lazim menggunakan ungkapan adat sebagai sarana menyampaikan pesan moral maupun keputusan adat. Cara ini bukan sekadar memperindah bahasa, tetapi menunjukkan kebijaksanaan dan kedewasaan dalam bertutur.
Sebagian besar ungkapan adat Kerinci lahir dari hubungan masyarakat dengan alam. Gunung, sawah, sungai, hutan, dan kehidupan sehari-hari dijadikan sumber pelajaran hidup.
Alam bukan hanya tempat hidup masyarakat Kerinci, tetapi juga guru yang mengajarkan nilai keseimbangan, kesabaran, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama.
“Alam tikembang munjadi Guru“
Melalui bahasa kias, leluhur Kerinci mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan, menghormati orang tua, menahan amarah, serta mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Semua nilai itu diwariskan bukan melalui kemarahan, melainkan melalui kata-kata bijak yang mudah diterima dan direnungkan.
Namun, perkembangan zaman saat ini membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat. Bahasa yang serba cepat dan langsung perlahan menggeser tradisi tutur yang santun dan penuh makna. Generasi muda semakin jarang mengenal petatah-petitih adat maupun ungkapan kias yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kerinci.
Keadaan ini tentu menjadi perhatian bersama. Sebab hilangnya bahasa kias berarti hilangnya sebagian warisan budaya dan jati diri masyarakat Kerinci. Di dalam ungkapan adat tersimpan nilai moral, filosofi hidup, dan kebijaksanaan leluhur yang sangat berharga bagi kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, tradisi tutur adat Kerinci perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Pendidikan budaya lokal, kegiatan adat, sastra lisan, dan peran keluarga menjadi sangat penting dalam memperkenalkan kembali nilai-nilai tersebut.
Bahasa kias bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah cermin peradaban masyarakat Kerinci yang mengajarkan bahwa berbicara bukan hanya soal menyampaikan maksud, tetapi juga menjaga rasa, menghormati martabat sesama, dan merawat keharmonisan dalam kehidupan bersama.
Penulis : Safwandi., Dpt (Kepalo Sembah)






