Jambi, Pribhumi.com — Sebuah riset terbaru mengungkap fenomena menarik di Eropa: figur monarki yang tidak terlibat langsung dalam kebijakan justru memiliki tingkat kepercayaan publik lebih tinggi dibanding para pemimpin politik.
Berdasarkan data dari Morning Consult yang diolah oleh Visual Capitalist, pola ini terlihat konsisten di delapan negara Eropa. Dalam seluruh sampel, kepala negara simbolik selalu mencatatkan tingkat persetujuan lebih tinggi dibanding pemimpin pemerintahan—tanpa pengecualian.
Fenomena ini dinilai berkaitan dengan peran monarki yang berada di luar dinamika kebijakan publik. Para raja tidak terlibat dalam keputusan krusial seperti inflasi, imigrasi, maupun layanan publik, sehingga terhindar dari dampak negatif kebijakan.
Sebaliknya, pemimpin terpilih harus menghadapi tekanan politik secara langsung. Setiap kebijakan yang diambil membawa konsekuensi, baik dukungan maupun kritik, yang pada akhirnya memengaruhi tingkat popularitas mereka.
Di Inggris, Charles III mencatat tingkat persetujuan sebesar 53 persen, jauh di atas Perdana Menteri Keir Starmer yang hanya 27 persen. Selisih ini mencapai 26 poin.
Hal serupa terjadi di Belanda, di mana Willem-Alexander memperoleh 63 persen, sementara Rob Jetten berada di angka 28 persen.
Di Norwegia, Harald V mencatat 61 persen, sedangkan Perdana Menteri Jonas Gahr Støre berada di 31 persen. Belgia menunjukkan selisih lebih besar, dengan Philippe di 66 persen dan Bart De Wever di 35 persen.
Sementara itu di Swedia, Carl XVI Gustaf mencatat 55 persen, dibandingkan Perdana Menteri Ulf Kristersson di 38 persen.
Spanyol menjadi contoh paling mencolok. Felipe VI meraih tingkat persetujuan 76 persen, hampir dua kali lipat dari Perdana Menteri Pedro Sánchez yang berada di 38 persen.
Di Denmark, Frederik X mencatat angka tertinggi yakni 80 persen, sementara Mette Frederiksen berada di 43 persen. Luksemburg menjadi negara dengan selisih paling kecil, namun tetap signifikan, dengan Henri di 69 persen dan Luc Frieden di 49 persen.
Hasil ini menunjukkan bahwa figur simbolik cenderung lebih mudah mempertahankan citra positif karena tidak terseret dalam konflik kebijakan. Sementara itu, pemimpin politik harus berhadapan langsung dengan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Dalam konteks Eropa modern, tingkat popularitas ternyata tidak selalu mencerminkan besarnya kekuasaan. Sosok yang paling disukai publik justru bukan pihak yang paling menentukan arah kebijakan negara.






