Mengapa Warna Hitam Identik dengan Suasana Duka? Ini Sejarah dan Maknanya

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jambi, Pribhumi.com – Pakaian berwarna hitam hampir selalu identik dengan suasana duka dan pemakaman. Saat menghadiri rumah duka atau prosesi pemakaman, banyak orang memilih mengenakan busana hitam sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum.

Tradisi tersebut ternyata memiliki sejarah panjang yang berkembang sejak ribuan tahun lalu dan dipengaruhi budaya di berbagai belahan dunia.

Sejumlah catatan sejarah menyebut kebiasaan mengenakan pakaian gelap saat berkabung sudah dilakukan sejak era Romawi kuno. Kala itu, keluarga yang ditinggalkan akan memakai toga berwarna gelap yang dikenal sebagai toga pulla sebagai simbol kesedihan atas meninggalnya anggota keluarga.

Tradisi tersebut kemudian berkembang di Eropa, khususnya di Inggris pada abad pertengahan. Para perempuan yang ditinggal wafat suaminya lazim mengenakan kerudung dan pakaian hitam selama masa berkabung.

Di masa itu, warna hitam tidak hanya menjadi simbol kehilangan, tetapi juga menunjukkan penghormatan dan status sosial. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ketat pula aturan berpakaian saat berkabung.

Baca Juga :  Indonesia Tegur Keras Meta, Pemerintah Soroti Maraknya Judi Online dan Disinformasi di Facebook hingga WhatsApp

Penggunaan pakaian hitam semakin populer pada era pemerintahan setelah suaminya, , meninggal dunia pada tahun 1861. Ratu Victoria diketahui mengenakan pakaian hitam selama sisa hidupnya sebagai bentuk duka mendalam.

Pengaruh tersebut membuat budaya berkabung di Inggris menjadi sangat teratur. Pada masa itu, keluarga dekat diwajibkan memakai pakaian hitam selama periode tertentu yang disebut masa “berkabung mendalam”. Setelahnya, warna pakaian perlahan berganti menjadi warna gelap lain seperti ungu tua atau hijau tua sebelum akhirnya kembali menggunakan warna cerah.

Tidak hanya pakaian, aturan berkabung saat itu juga mencakup aksesori seperti topi, payung, sepatu, hingga sapu tangan.

Baca Juga :  Kementerian Kebudayaan Tetapkan 430 Cagar Budaya Nasional Baru pada 2026

Tradisi tersebut kemudian menyebar ke Amerika dan menjadi bagian kuat dari budaya Barat hingga akhir abad ke-19. Sampai sekarang, warna hitam masih dianggap sebagai pilihan utama untuk menghadiri pemakaman di banyak negara Barat.

Secara simbolis, warna hitam dianggap mewakili keseriusan, penghormatan, dan kedalaman rasa kehilangan. Warna ini juga dinilai sederhana sehingga perhatian utama tetap tertuju kepada orang yang meninggal, bukan pada penampilan para pelayat.

Selain itu, penggunaan pakaian hitam juga menciptakan rasa kebersamaan di antara para pelayat sebagai bentuk solidaritas dalam suasana duka.

Meski demikian, tidak semua budaya menggunakan warna hitam untuk berkabung. Di sejumlah negara Asia, warna putih justru lebih identik dengan pemakaman karena dianggap melambangkan kesucian, kedamaian, dan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Berita Terkait

Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah
Menyibak Rahasia Tambo Kerinci: Ketika Satu Gelar Melahirkan Banyak Pewaris
Harik Hana hingga Rakryan Hino, Kajian Tambo Kerinci Ungkap Dugaan Jejak Jawa Kuno
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
Sko Tigo Takah, Sistem Penyelesaian Sengketa Adat Kerinci yang Menjunjung Musyawarah dan Keadilan
Lembaga Adat Diminta Tidak Mengambil Alih Hak Tradisional Pemangku Adat
Marwah Pemangku Adat Jati Harus Dikembalikan, Aktivis Adat Sampaikan Seruan

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 12:48 WIB

Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:46 WIB

Menyibak Rahasia Tambo Kerinci: Ketika Satu Gelar Melahirkan Banyak Pewaris

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:01 WIB

Harik Hana hingga Rakryan Hino, Kajian Tambo Kerinci Ungkap Dugaan Jejak Jawa Kuno

Minggu, 19 Juli 2026 - 11:00 WIB

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Juli 2026 - 08:27 WIB

FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB