JAKARTA, Pribhumi.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan tajam hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda tersebut dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa gejolak eksternal menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berdampak besar terhadap stabilitas perdagangan internasional, terutama terkait jalur distribusi energi dunia di Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah membuat harga minyak mentah global melonjak signifikan. Kondisi ini menjadi beban tambahan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dalam jumlah besar.
Ia menyebut kebutuhan impor minyak Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, sehingga lonjakan harga minyak otomatis meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk transaksi impor energi.
Selain itu, penguatan indeks dolar AS turut memperburuk tekanan terhadap rupiah di pasar valuta asing.
Sementara itu, Co-founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury menjadi faktor penting yang membuat dolar semakin perkasa.
Menurut Hans, yield US Treasury yang terus naik mendorong investor global memindahkan dana mereka ke instrumen keuangan Amerika Serikat yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.
Akibat arus modal keluar tersebut, mata uang negara berkembang termasuk rupiah ikut tertekan.
Di dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia juga dinilai berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia membuat sebagian investor asing memilih keluar dari pasar domestik.
Tak hanya faktor ekonomi, sentimen politik turut disebut mempengaruhi pergerakan rupiah. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah dinilai memicu respons negatif di kalangan pelaku pasar.
Sebelumnya, Prabowo menanggapi pelemahan rupiah secara santai dengan menyebut kondisi tersebut tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa.
Ibrahim menilai komentar tersebut dimanfaatkan pasar sebagai sinyal negatif sehingga mendorong aksi pembelian dolar AS oleh investor.
Ia juga menilai pemerintah perlu segera menghadirkan langkah konkret untuk meredam tekanan terhadap rupiah, termasuk strategi mengurangi ketergantungan impor minyak dan percepatan implementasi program bahan bakar campuran B50.
Menurutnya, kepastian kebijakan dan langkah antisipasi krisis sangat dibutuhkan agar kepercayaan pasar kembali pulih dan nilai tukar rupiah dapat menguat kembali.
Editor : Safwandi., Dpt






