Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Harga Kebutuhan Diprediksi Naik dalam Beberapa Bulan

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Pribhumi.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat Indonesia. Nilai tukar dolar AS yang kini menyentuh kisaran Rp17.600 dinilai berpotensi memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari dalam beberapa bulan mendatang.

Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengatakan dampak terbesar dari pelemahan rupiah adalah meningkatnya inflasi impor atau imported inflation. Menurutnya, Indonesia masih sangat bergantung pada produk impor, baik bahan baku industri maupun barang konsumsi.

“Inflasi dari impor akan mulai naik karena biaya distribusi meningkat dan harga barang ikut naik. Dampaknya akan terasa pada berbagai produk yang berkaitan dengan impor,” ujar Huda, Jumat (15/5/2026).

Ia memprediksi kenaikan harga akan mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Salah satu komoditas yang mulai mengalami kenaikan adalah plastik karena bahan baku impor semakin mahal dan distribusinya ikut terdampak.

Kenaikan harga plastik disebut dapat berdampak luas karena banyak produk kebutuhan masyarakat menggunakan kemasan berbahan plastik, termasuk minyak goreng kemasan dan barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Baca Juga :  Tragis! Lima Warga Kerinci Meninggal dalam Kecelakaan Hiace dan Truk di Tol Pekanbaru-Dumai

“Dampak pelemahan rupiah ini bisa dirasakan semua lapisan masyarakat, mulai dari pedagang kecil hingga pengusaha,” katanya.

Hal senada disampaikan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia menjelaskan Indonesia masih mengimpor banyak kebutuhan penting seperti gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat-obatan, hingga bahan baku industri.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor barang-barang tersebut otomatis meningkat dan akhirnya mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

“Dampaknya pelan-pelan akan terasa pada harga makanan, obat-obatan, dan kebutuhan rumah tangga,” ujar Rendy.

Kelas Menengah Diperkirakan Paling Tertekan

Rendy menilai kelompok kelas menengah akan menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak pelemahan rupiah. Kenaikan harga diprediksi terjadi pada berbagai produk konsumsi seperti gadget, elektronik, kosmetik impor, hingga layanan digital berlangganan.

Selain itu, biaya pendidikan luar negeri dan harga tiket pesawat juga berpotensi meningkat karena banyak komponen pembiayaan menggunakan dolar AS.

Baca Juga :  Terobosan Baterai Silikon: Mobil Listrik Bisa Tempuh 1.000 Km Sekali Cas

“Sebagian besar biaya maskapai menggunakan dolar AS, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, hingga perawatan mesin. Ketika rupiah melemah, biaya operasional otomatis naik,” jelasnya.

Menurut Rendy, kondisi ini membuat masyarakat harus menekan pengeluaran dan lebih selektif dalam berbelanja. Banyak orang diperkirakan hanya akan membeli kebutuhan yang dianggap penting.

“Orang mungkin masih bisa membeli kebutuhan, tetapi ruang belanjanya semakin sempit sehingga pendapatan terasa tidak lagi cukup seperti sebelumnya,” katanya.

Meski demikian, pelemahan rupiah juga memberi keuntungan bagi sebagian pihak, seperti pekerja migran yang menerima gaji dalam mata uang asing dan eksportir komoditas berbasis dolar AS, termasuk sektor kelapa sawit, kopi, dan perikanan.

Namun secara umum, para ekonom menilai dampak negatif pelemahan rupiah tetap lebih besar bagi mayoritas masyarakat Indonesia karena mendorong kenaikan harga dan menurunkan daya beli masyarakat.

 

Berita Terkait

Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP
Ekspor SDA Satu Pintu Resmi Berlaku, Pengusaha Ajukan Enam Masukan untuk Pemerintah
Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor
Prabowo: Indonesia Kaya SDA dan Sudah Swasembada Pangan, Saatnya Nilai Tambah Dinikmati Rakyat
Harga BBM Non-Subsidi Pertamina per 1 Juni 2026 Resmi Berubah
Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar
Harga Emas Antam Melonjak Rp25.000 per Gram, Tembus Rp2,799 Juta pada Akhir Mei 2026
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ancaman Inflasi dan PHK Massal Mengintai

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:02 WIB

Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP

Selasa, 2 Juni 2026 - 13:00 WIB

Ekspor SDA Satu Pintu Resmi Berlaku, Pengusaha Ajukan Enam Masukan untuk Pemerintah

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:00 WIB

Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor

Senin, 1 Juni 2026 - 13:37 WIB

Prabowo: Indonesia Kaya SDA dan Sudah Swasembada Pangan, Saatnya Nilai Tambah Dinikmati Rakyat

Senin, 1 Juni 2026 - 07:00 WIB

Harga BBM Non-Subsidi Pertamina per 1 Juni 2026 Resmi Berubah

Berita Terbaru