Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 23 Juli 2026 - 12:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PADANG, Pribhumi.com – Perdebatan mengenai keberadaan aksara asli Minangkabau kembali menjadi perhatian dalam kajian sejarah dan filologi Nusantara. Di satu sisi, klaim mengenai aksara Minangkabau yang pernah dipamerkan Museum Adityawarman pada 2005 akhirnya ditarik karena keaslian dan asal-usulnya masih dipertanyakan. Di sisi lain, Naskah Tanjung Tanah dari Kerinci justru memperoleh pengakuan luas setelah melalui pengujian ilmiah dan kajian filologis yang ketat.

Kajian ini menjadi bagian dari Seri Purbakala Sumatera Barat yang menyoroti perkembangan tradisi tulis di kawasan bekas Kerajaan Melayu dan hubungannya dengan wilayah Kerinci.

Klaim Aksara Minangkabau Masih Menyisakan Pertanyaan

Gagasan bahwa Minangkabau memiliki sistem aksara sendiri telah muncul sejak Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar pada 1970. Saat itu diperkenalkan sebuah aksara yang disebut berasal dari Kitab Tambo Alam di Nagari Pariangan.

Informasi tersebut kemudian dipublikasikan oleh H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Limbago: Majalah Adat dan Kebudayaan Minangkabau tahun 1987. Aksara tersebut disebut berbentuk abugida, sebagaimana beberapa aksara tradisional di Sumatra.

Pada 2005, Museum Adityawarman turut menampilkan aksara tersebut dalam sebuah seminar. Namun tidak lama kemudian, pihak museum menarik kembali materi tersebut karena belum terdapat kepastian ilmiah mengenai keaslian maupun sumber naskah yang mendasarinya.

Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk kehati-hatian akademik agar sebuah klaim sejarah tidak diterima sebelum memiliki bukti yang dapat diverifikasi.

Baca Juga :  Sko Tigo Takah, Sistem Penyelesaian Sengketa Adat Kerinci yang Menjunjung Musyawarah dan Keadilan

Dokumentasi Menjadi Persoalan Utama

Sejumlah filolog menilai persoalan terbesar bukan semata bentuk aksaranya, melainkan belum tersedianya dokumentasi ilmiah terhadap naskah sumber.

Kajian yang berkembang menyebutkan bahwa naskah Kitab Tambo Alam maupun Tambo Ruweh Buku belum pernah dipublikasikan secara lengkap sehingga sulit diuji oleh peneliti lain.

Selain itu, beberapa peneliti juga mencatat adanya sejumlah kejanggalan linguistik dan paleografis yang masih memerlukan penelitian lanjutan.

Karena itu, hingga kini status kedua aksara tersebut dinilai masih memerlukan pembuktian melalui penelitian terbuka, dokumentasi menyeluruh, serta pengujian terhadap bahan naskah apabila manuskrip aslinya masih tersedia.

Naskah Tanjung Tanah Menjadi Pembanding

Berbeda dengan klaim tersebut, Naskah Tanjung Tanah dari Desa Tanjung Tanah, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, justru memperoleh pengakuan melalui proses ilmiah.

Naskah yang telah diketahui keberadaannya sejak dicatat Petrus Voorhoeve pada 1941 itu kemudian diteliti lebih lanjut oleh filolog Uli Kozok.

Pada 2002, sampel bahan naskah diuji di Laboratorium Rafter, Wellington, Selandia Baru, menggunakan metode radiokarbon. Hasil pengujian menunjukkan usia sekitar 553 ± 40 tahun BP, yang dikonversi berada pada kisaran 1357–1437 Masehi.

Hasil tersebut dinilai selaras dengan kajian historis yang menghubungkan isi naskah dengan Kerajaan Melayu Dharmasraya pada abad ke-14.

Baca Juga :  Tragedi Usai Bukber, Siswa SMAN 5 Bandung Tewas Diduga Dianiaya Kelompok Pelajar
Naskah Tanjung Tanah- Kerinci

Bukti Tradisi Tulis Melayu Pra-Islam

Selain usia naskah, penelitian juga menunjukkan bahwa Naskah Tanjung Tanah ditulis menggunakan aksara pasca-Palawa atau Melayu Kuno, sementara dua halaman terakhir menggunakan aksara Incung Kerinci.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tulis berbahasa Melayu telah berkembang sebelum penyebaran Islam berlangsung secara luas di Nusantara.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penyebutan Naskah Tanjung Tanah sebagai naskah Melayu tertua harus dipahami dalam konteks manuskrip berbahan daluang atau kulit kayu. Bukti tertulis bahasa Melayu yang lebih tua tetap ditemukan pada sejumlah prasasti batu abad ke-7 Masehi.

Pentingnya Metode Ilmiah

Kajian ini menunjukkan bahwa dalam penelitian sejarah, kekuatan sebuah klaim tidak ditentukan oleh seberapa populer atau sering dipamerkan, melainkan oleh proses verifikasi ilmiah yang dapat diuji ulang.

Penarikan materi pameran oleh Museum Adityawarman dipandang sebagai contoh bahwa lembaga ilmiah dapat mengoreksi dirinya ketika bukti yang tersedia belum memadai.

Sementara itu, Naskah Tanjung Tanah memperoleh pengakuan karena melalui tahapan dokumentasi, penelitian filologis, hingga pengujian laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Para peneliti menilai masih terbuka peluang untuk mengkaji kembali keberadaan kemungkinan aksara Minangkabau apabila naskah-naskah yang selama ini disebut sebagai sumber dapat didokumentasikan secara lengkap dan diuji menggunakan metode ilmiah modern.

Penulis : Mohammad Basyir Zubair (EMBAS)

Editor : Safwandi., Dpt

Berita Terkait

Menyibak Rahasia Tambo Kerinci: Ketika Satu Gelar Melahirkan Banyak Pewaris
Harik Hana hingga Rakryan Hino, Kajian Tambo Kerinci Ungkap Dugaan Jejak Jawa Kuno
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
Sko Tigo Takah, Sistem Penyelesaian Sengketa Adat Kerinci yang Menjunjung Musyawarah dan Keadilan
Lembaga Adat Diminta Tidak Mengambil Alih Hak Tradisional Pemangku Adat
Marwah Pemangku Adat Jati Harus Dikembalikan, Aktivis Adat Sampaikan Seruan
Monadi dan Alfin Sepakat Bentuk Sekber Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci, Perkuat Lembago Adat Jati

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 12:48 WIB

Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:46 WIB

Menyibak Rahasia Tambo Kerinci: Ketika Satu Gelar Melahirkan Banyak Pewaris

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:01 WIB

Harik Hana hingga Rakryan Hino, Kajian Tambo Kerinci Ungkap Dugaan Jejak Jawa Kuno

Minggu, 19 Juli 2026 - 11:00 WIB

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Juli 2026 - 08:27 WIB

FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB