NEPAL, Pribhumi.com — Bencana banjir bandang disertai tanah longsor yang menerjang kawasan pegunungan di perbatasan Nepal dan Tibet, China, menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga laporan terbaru, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai lebih dari 150 orang.
Tim penyelamat Nepal menemukan sejumlah jenazah di beberapa wilayah terdampak, antara lain Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Chitwan, Gorkha, Tanahun hingga Nawalparasi East.
Selain korban meninggal, proses pencarian masih dilakukan terhadap ratusan orang yang belum diketahui keberadaannya. Sebanyak 384 orang dilaporkan masih hilang, terdiri dari 291 warga negara asing dan 93 warga Nepal.
Bencana tersebut terjadi pada Rabu (26/8/2026), ketika banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah kawasan di sepanjang wilayah pegunungan yang berbatasan dengan Tibet.
Pada awal kejadian, bencana sempat diduga berkaitan dengan aktivitas gempa yang disebut memicu longsoran es dan material batuan ke Sungai Lhende Khola. Sungai tersebut mengalir melintasi kawasan Nepal dan Tibet.
Namun, hasil analisis lanjutan dari United States Geological Survey (USGS) menunjukkan tidak terdapat aktivitas gempa bumi yang mendahului terjadinya longsor dan banjir bandang tersebut.
Pemerintah Nepal kemudian mempercepat operasi tanggap darurat. Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengerahkan personel militer, kepolisian, helikopter serta tenaga medis untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban.
Di sisi lain, Presiden China Xi Jinping memerintahkan upaya pencarian dan penyelamatan secara maksimal terhadap warga yang masih hilang. Pemerintah China juga meminta dilakukan pemantauan secara ketat terhadap kondisi di wilayah terdampak untuk mengantisipasi kemungkinan bencana susulan.
Sedikitnya 574 personel penyelamat China turut dikerahkan ke kawasan perbatasan darat Gyirong. Operasi pencarian terus dilakukan di tengah kondisi medan pegunungan yang sulit dan ancaman longsor lanjutan.






