Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com – Wabah Ebola yang kembali merebak di Republik Demokratik Kongo menghadapi tantangan serius, bukan hanya dari penyebaran virus, tetapi juga dari maraknya informasi palsu dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap penjelasan medis.

Kurang dari tiga pekan sejak wabah diumumkan, sekitar 350 kasus telah terkonfirmasi dengan sedikitnya 60 korban meninggal dunia. Namun, sebagian masyarakat di wilayah terdampak masih meragukan keberadaan penyakit tersebut.

Di Mongbwalu, salah satu daerah yang menjadi pusat penyebaran wabah di Provinsi Ituri, timur laut Kongo, petugas kesehatan mengaku kesulitan meyakinkan warga mengenai bahaya Ebola.

Koordinator tim pemakaman aman dan bermartabat setempat, John Tumujimbe, mengatakan banyak warga tetap menolak mempercayai diagnosis meskipun korban jiwa terus bertambah.

Menurutnya, pada awal kemunculan kasus, masyarakat mengira penyebab kematian berasal dari malaria, tifus, atau penyakit diare. Setelah angka kematian meningkat, sampel pasien dikirim ke Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo (INRB), yang kemudian memastikan keberadaan virus Ebola.

Rumor Berujung Kekerasan

Ketidakpercayaan masyarakat memicu beredarnya berbagai rumor yang menyalahkan peti mati sebagai penyebab kematian. Seiring waktu, narasi tersebut berkembang menjadi tuduhan bahwa para petugas kesehatan dan pekerja kemanusiaan justru menjadi penyebar virus.

Situasi semakin memanas ketika sekelompok massa menyerang Rumah Sakit Umum Mongbwalu pada akhir Mei lalu. Mereka menuntut agar jenazah anggota keluarga diserahkan dan membakar fasilitas milik organisasi kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (MSF).

Baca Juga :  Menpar Tanggapi Kebijakan Trump, Pariwisata Jadi Andalan Hadapi Tekanan Global

Akibat insiden tersebut, MSF menarik seluruh personelnya dari wilayah tersebut. Kondisi ini memicu kepanikan dan membuat sejumlah pasien yang sedang dalam pemantauan melarikan diri.

Direktur Rumah Sakit Mongbwalu, Richard Lokudi, mengungkapkan sedikitnya 18 pasien yang dicurigai terinfeksi Ebola hilang dari pengawasan petugas kesehatan.

Pihak medis khawatir para pasien tersebut berpotensi menyebarkan virus kepada masyarakat yang membantu atau melindungi mereka.

Pola Hoaks yang Terus Berulang

Peneliti keamanan dan disinformasi, Christopher Nehring, menyebut pola penyebaran hoaks saat krisis kesehatan sebenarnya bukan fenomena baru.

Menurutnya, hampir setiap wabah besar selalu diikuti narasi serupa, mulai dari tuduhan bahwa virus merupakan senjata biologis buatan laboratorium, vaksin dianggap lebih berbahaya daripada penyakit, hingga klaim bahwa wabah sebenarnya tidak pernah ada.

Nehring yang turut menyusun laporan tentang wabah Ebola terbaru untuk Konrad-Adenauer-Stiftung menilai pola tersebut telah muncul berulang kali selama beberapa dekade terakhir, meskipun bentuk dan medianya terus berubah.

Faktor Ekonomi dan Konflik Politik

Pendiri lembaga pemeriksa fakta Balobaki Check, Ange Kasongo, mengungkapkan bahwa faktor ekonomi juga berpengaruh terhadap cara masyarakat memandang wabah.

Di wilayah Ituri yang kaya tambang emas, sebagian warga lebih mengaitkan kematian dengan praktik mistis dan persaingan ekonomi dibandingkan dengan penyebaran penyakit menular.

Selain itu, konflik bersenjata yang masih berlangsung di kawasan timur Kongo turut memunculkan berbagai teori konspirasi. Dalam sejumlah percakapan pribadi di media sosial, beredar tuduhan adanya upaya sistematis untuk memusnahkan penduduk wilayah tersebut.

Baca Juga :  Prabowo Tegaskan Indonesia Selalu Lunasi Utang Negara, Ini Strategi Pengelolaannya

Beberapa teori bahkan mengaitkan Presiden Kongo Felix Tshisekedi dan sejumlah ilmuwan dengan penyebaran wabah. Namun hingga kini, tidak ditemukan bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

Pemangkasan Dana Perburuk Penanganan

Upaya penanganan wabah juga menghadapi kendala akibat berkurangnya dukungan pendanaan internasional. Sejumlah program bantuan kesehatan global mengalami pemangkasan anggaran, termasuk setelah Amerika Serikat mengurangi keterlibatan dan pendanaan pada sejumlah program kesehatan internasional.

Menurut Nehring, keterbatasan dana tidak hanya berdampak pada layanan medis, tetapi juga mempersempit ruang edukasi publik yang sangat penting untuk melawan penyebaran hoaks.

Sementara itu, Kasongo menilai pemerintah dan otoritas kesehatan sebenarnya telah berupaya menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Namun tantangan terbesar adalah bagaimana menjangkau komunitas-komunitas lokal yang tidak menggunakan bahasa resmi dan memiliki akses terbatas terhadap informasi terpercaya.

Ia menegaskan pentingnya melibatkan tokoh masyarakat dan pemimpin komunitas dalam penyebaran informasi kesehatan agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipercaya warga.

Di tengah terus bertambahnya kasus, para ahli menilai keberhasilan mengendalikan wabah Ebola tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kemampuan membangun kepercayaan publik dan memerangi disinformasi yang berkembang di masyarakat.

Berita Terkait

Kronologi Tabrakan Dua Kereta Cepat di Spanyol, Penyintas Ungkap Detik-Detik Mengerikan
Serangan Drone Rusia Hantam Stasiun di Dnipro, Jumlah Korban Meninggal Capai 14 Jiwa
Pemerintah Kucurkan Rp10 Triliun ke BPJS Kesehatan, Pembayaran Klaim RS Dikebut
The Sacred Riana Ukir Sejarah, Jadi Pesulap Indonesia Pertama Raih Penghargaan Les Mandrakes d’Or
Sambal Khas Kerinci Mendunia ditangan PitriaNova
Dangdut Ditargetkan Diakui UNESCO pada 2027, Kementerian Kebudayaan Mulai Kampanye
Pre-order iPhone Duo Ludes dalam Hitungan Menit, Pengiriman Mundur hingga Januari 2027
AFC Pastikan Piala Asia 2027 Tetap Digelar di Arab Saudi

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:06 WIB

Kronologi Tabrakan Dua Kereta Cepat di Spanyol, Penyintas Ungkap Detik-Detik Mengerikan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:06 WIB

Serangan Drone Rusia Hantam Stasiun di Dnipro, Jumlah Korban Meninggal Capai 14 Jiwa

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Pemerintah Kucurkan Rp10 Triliun ke BPJS Kesehatan, Pembayaran Klaim RS Dikebut

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:47 WIB

The Sacred Riana Ukir Sejarah, Jadi Pesulap Indonesia Pertama Raih Penghargaan Les Mandrakes d’Or

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:00 WIB

Sambal Khas Kerinci Mendunia ditangan PitriaNova

Berita Terbaru