Menyibak Rahasia Tambo Kerinci: Ketika Satu Gelar Melahirkan Banyak Pewaris

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI, Pribhumi.com – Kajian terhadap sejumlah naskah kuno (Tambo) Kerinci mengungkap bahwa variasi penulisan nama tokoh, perubahan bentuk aksara, hingga fragmentasi gelar adat merupakan tantangan utama dalam menelusuri sejarah dan sistem pemerintahan adat masyarakat Kerinci. Melalui pendekatan filologi, sejarah, antropologi, serta penelusuran tradisi lisan, sejumlah peneliti dan penggiat adat menemukan bahwa berbagai istilah dalam Tambo diduga memiliki keterkaitan dengan tradisi birokrasi dan gelar kehormatan pada masa Jawa Kuno.

Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci (LA-SAK) Kabupaten Kerinci, Safwandi., Dpt., yang juga merupakan pemerhati Adat Sakti Alam Kerinci menegaskan bahwa perbedaan penulisan nama maupun gelar dalam Tambo tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa tokoh yang dimaksud merupakan individu yang berbeda.

Menurutnya, variasi tersebut lazim ditemukan dalam tradisi penyalinan manuskrip kuno. Perbedaan ejaan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan penyalin, dialek lokal, perubahan bahasa dari waktu ke waktu, maupun bentuk aksara yang mengalami perkembangan selama proses transmisi naskah.

“Karena itu, analisis terhadap Tambo tidak cukup hanya melalui pembacaan tekstual, tetapi harus dipadukan dengan pendekatan filologi, sejarah, antropologi, serta pemahaman terhadap struktur adat Kerinci,” ujar Safwandi.

Safwandi., Dpt (Dengan Pusaka Rik Nang Gung Gumbalo Bumi Rajo)

Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip kajian filologi yang dikemukakan oleh filolog Indonesia, Prof. Dr. Oman Fathurahman, bahwa penelitian terhadap naskah kuno harus dilakukan melalui perbandingan berbagai manuskrip, konteks isi, bahasa, silsilah, dan tradisi lisan yang masih hidup. Dengan demikian, perbedaan ejaan tidak serta-merta menunjukkan adanya tokoh yang berbeda.

Variasi Penulisan yang Merujuk pada Tokoh yang Sama

Safwandi mencontohkan Tambo Kerinci (TK) 145 yang disimpan oleh Depati Simpan Bumi Tuo, Dusun Balai. Dalam naskah tersebut tercantum nama Ninik Riya Caya bersama sejumlah tokoh lain, seperti Hawang Malila, Hintan Baginda, Ninik Sa’in, dan Ninik Parajadi.

Salinan Tambo Kerinci (TK) 145 yang disimpan oleh Depati Simpan Bumi Tuo, Dusun Balai.

Sementara itu, pada Tambo Kerinci (TK) 35 yang disimpan oleh Singaraja Pait, Dusun Tengah Koto Lolo, tokoh yang sama dituliskan sebagai Tiya Caya, berdampingan dengan nama Tuwa Baginda, Hawang Malila, Patih Jadi, dan Tuwa Sa’ih.

Tambo Kerinci (TK) 35 yang disimpan oleh Singaraja Pait, Dusun Tengah Koto Lolo

Sekilas, perbedaan satu aksara tersebut dapat menimbulkan anggapan bahwa kedua naskah sedang menyebut dua tokoh yang berbeda. Namun setelah dianalisis melalui perbandingan struktur narasi, urutan tokoh, hubungan antargelar, serta konteks sejarah dalam kedua naskah, diketahui bahwa Riya Caya dan Tiya Caya merujuk pada figur yang sama.

Baca Juga :  PSSI Telusuri Lima Kandidat Pelatih Baru Timnas Indonesia, Tiga Nama Mulai Terungkap

Kehadiran tokoh-tokoh lain yang memiliki korespondensi kuat, seperti Hawang Malila, Tuwa Baginda atau Hintan Baginda, Patih Jadi atau Parajadi, serta Tuwa Sa’ih atau Sa’in, memperkuat dugaan bahwa perbedaan tersebut hanyalah variasi ortografi dalam tradisi penyalinan manuskrip.

Fragmentasi Gelar sebagai Legitimasi Pewarisan Adat

Selain variasi penulisan nama, penelitian juga menemukan fenomena fragmentasi atau pemecahan rangkaian gelar adat yang kemudian diwariskan kepada garis keturunan tertentu sebagai dasar legitimasi penyandang gelar.

Penggiat Adat Sakti Alam Kerinci, Andodias Rapuan., Dpt., menjelaskan bahwa fenomena tersebut dapat ditemukan dalam Tambo Kerinci (TK) 180 bertuliskan aksara Incung pada tanduk kerbau yang disimpan oleh Ninik Itam, Dusun Kuto Cayo.

Tambo Kerinci (TK) 180 bertuliskan aksara Incung pada tanduk kerbau yang disimpan oleh Ninik Itam, Dusun Kuto Cayo.

Menurutnya, salah satu istilah yang menarik perhatian adalah Harik Hana, yang hingga kini dikenal masyarakat sebagai Rik Nang, dengan salah satu gelar Rik Nang Gung Gumbalo Bumi Rajo.

Pada kelompok masyarakat Ijung Mandalo/Malano, masih dikenal sejumlah gelar qalbu seperti Sutan Mendalo Bumi, Mendalo Bumi Kunci Negeri, Panggar Bumi, dan Melano Gedang, sementara Ijung Mandalo atau Malano tetap dipertahankan sebagai nama suku. Kelompok ini merupakan bagian dari unsur Hulubalang Depati Kepalo Sembah dan termasuk dalam bilangan Ninik Mamak Paramenti Selapan di Pamuncak Tanah Mendapo Tigo Luhah Semurup.

Namun demikian, Andodias menegaskan bahwa istilah Harik Hana masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Andodias Rapuan., Dpt (Sigumi Putih Qudrat), Penggiat Adat Sakti Alam Kerinci

“Dalam aksara Incung terdapat beberapa bentuk huruf yang sangat mirip sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan pembacaan. Karena itu, istilah Harik Hana masih perlu diuji melalui kajian paleografi, linguistik sejarah, dan perbandingan dengan naskah Nusantara lainnya,” katanya.

Dugaan Jejak Rakryan Hino dari Jawa Kuno

Salah satu hipotesis yang kini tengah dikaji adalah kemungkinan keterkaitan istilah Harik Hana dengan Rake Hino atau Rakryan Hino, yakni gelar pejabat tinggi dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno, Kadiri, Singhasari, hingga Majapahit.

Dalam tradisi Jawa Kuno, Rakryan berarti pejabat tinggi kerajaan, sedangkan Hino menunjukkan kedudukan utama dalam hierarki pemerintahan. Karena itu, Rakryan Hino bukanlah nama pribadi, melainkan sebuah jabatan yang pada beberapa periode dipegang oleh tokoh yang dipersiapkan sebagai penerus takhta.

Menurut Andodias, dugaan hubungan tersebut masih bersifat akademis dan memerlukan pembuktian melalui kajian lintas disiplin, termasuk paleografi, linguistik historis, serta perbandingan dengan prasasti dan naskah Jawa Kuno.

Baca Juga :  Safwandi.,Dpt: Dukungan Berbagai Elemen Masyarakat, P3-TGAI Diharapkan Dapat Memperkuat Sektor Pertanian

Rangkaian Gelar yang Berkembang Menjadi Struktur Adat

Kajian terhadap TK 149 yang disimpan oleh Sutan Depati Pangga Tuo, Dusun Balai, juga memperlihatkan rangkaian gelar seperti Depati Pala Pasambih, Harik Hina, Panggar Bumi, Depati Samurut, Raja Simpan Gumi, dan Badarih Putih.

TK 149 yang disimpan oleh Sutan Depati Pangga Tuo, Dusun Balai

Berdasarkan hasil penelitian, bagian-bagian gelar tersebut kemudian berkembang menjadi gelar adat yang diwariskan kepada kelompok maupun garis keturunan tertentu dan masih dikenal dalam struktur adat Semurup hingga sekarang.

Melalui analisis terhadap sejumlah Tambo, peneliti juga mengidentifikasi tokoh Sangada Dibalang, yang dalam tradisi lisan dikenal sebagai Sangadu Dubalang, Ninik Ajo, atau Ajo Sagalo Bediri, sebagai penyandang awal Gelar Depati Kepalo Sembah.

Dari tokoh inilah kemudian berkembang berbagai garis gelar adat, seperti Depati Semurup Tuo, Depati Semurup Sirah Mato (Belui), Depati Semurup Tanah Pilih, Depati Semurup Putih, Depati Semurup Anggunalo, Depati Semurup Awang Malilo, hingga Depati Semurup Jayo Karti.

Sementara itu, gelar Raja Simpan Gumi masih dikenal sebagai Depati Penghulu pada salah satu luhah di Semurup, sedangkan Badarih Putih tetap bertahan sebagai salah satu gelar qalbu pada Suku Mangku Rajo.

Pentingnya Pendekatan Multidisipliner

Safwandi menegaskan bahwa seluruh temuan tersebut menunjukkan isi Tambo tidak dapat dipahami secara parsial ataupun hanya berdasarkan kemiripan bunyi suatu nama maupun gelar.

Menurutnya, setiap variasi penulisan, perubahan aksara, dan fragmentasi gelar harus dianalisis secara menyeluruh dengan memperhatikan konteks naskah, hubungan antartokoh, struktur genealogi, sistem pewarisan adat, serta tradisi lisan masyarakat.

Pendekatan ini juga sejalan dengan pandangan para ahli filologi seperti A. Teeuw dan Prof. Dr. Oman Fathurahman, yang menekankan pentingnya menggabungkan kajian bahasa, sejarah, antropologi, dan tradisi lisan dalam membaca naskah kuno.

“Dengan pendekatan yang kritis dan multidisipliner, Tambo Kerinci tidak hanya menjadi sumber sejarah, tetapi juga menjadi fondasi pelestarian identitas budaya dan penguatan hukum adat,” tutup Safwandi.

Kajian terhadap Tambo Kerinci pada akhirnya bukan sekadar upaya menafsirkan naskah lama, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan memori kolektif masyarakat Kerinci. Melalui penelitian yang berbasis metodologi ilmiah dan menghormati tradisi lokal, warisan intelektual leluhur diharapkan dapat dipahami secara lebih utuh sekaligus menjadi pijakan bagi pelestarian adat dan identitas budaya Kerinci di masa mendatang.

Penulis : Safwandi., S.AP., DPT (Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci, Kabupaten Kerinci)

Berita Terkait

Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah
Harik Hana hingga Rakryan Hino, Kajian Tambo Kerinci Ungkap Dugaan Jejak Jawa Kuno
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
Sko Tigo Takah, Sistem Penyelesaian Sengketa Adat Kerinci yang Menjunjung Musyawarah dan Keadilan
Lembaga Adat Diminta Tidak Mengambil Alih Hak Tradisional Pemangku Adat
Marwah Pemangku Adat Jati Harus Dikembalikan, Aktivis Adat Sampaikan Seruan
Monadi dan Alfin Sepakat Bentuk Sekber Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci, Perkuat Lembago Adat Jati

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 12:48 WIB

Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:46 WIB

Menyibak Rahasia Tambo Kerinci: Ketika Satu Gelar Melahirkan Banyak Pewaris

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:01 WIB

Harik Hana hingga Rakryan Hino, Kajian Tambo Kerinci Ungkap Dugaan Jejak Jawa Kuno

Minggu, 19 Juli 2026 - 11:00 WIB

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Juli 2026 - 08:27 WIB

FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB