SEMESTA BERBICARA, TAPI SIAPA YANG MENDENGAR?

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEMBACA GAGASAN “SEMESTA BICARA” I WAYAN MUSTIKA DARI PERSPEKTIF TASAWUF

Mohammad Basyir Zubair (EMBAS)

Pengantar: Sebuah Pengalaman Batin yang Menggugah

I Wayan Mustika menuliskan pengalaman batinnya dalam buku Saat Semesta Bicara: Ingatkan Jiwamu untuk Pulang, sebuah judul yang menurut sumber-sumber sekunder di internet, berangkat dari pengalaman automatic writing yang dialaminya sejak tahun 2001: ketika ia menuliskan pertanyaan, jawaban mengalir tanpa terasa direncanakan. Dari pengalaman itulah lahir Dialog Spiritual dan karya-karya berikutnya.

Gagasan intinya sederhana namun berani: semesta punya bahasa sendiri, dan manusia bisa belajar mendengarnya lewat keheningan, mengamati pohon, ombak, atau napas sendiri sebagai jalan masuk ke keadaan meditatif.

Gagasan ini menarik untuk dibaca ulang dari sudut pandang tasawuf, bukan untuk menilai benar-salahnya pengalaman batin Mustika, sebab pengalaman batin orang lain bukan wilayah yang bisa diadili dari luar, melainkan untuk menguji satu pertanyaan yang jauh lebih tajam: kalau semesta “berbicara”, siapa sebenarnya yang berbicara, dan siapa yang mendengar?

Ayat, Bukan Sumber

Titik pijak tasawuf terhadap gagasan “semesta bicara” dimulai dari sebuah koreksi halus namun mendasar. Dalam kerangka tauhid, semesta bukan Tuhan dan bukan sumber pengetahuan yang berdiri sendiri. Semesta adalah ayat, tanda, penampakan, medan tempat jejak-jejak Tuhan dapat dibaca.

Seorang sufi, dengan demikian, tidak akan mengatakan “aku mendengar semesta, maka semesta berbicara kepadaku”, melainkan “aku membaca tanda-tanda-Nya melalui semesta”.

Al-Qur’an sendiri secara eksplisit menyebut fenomena alam sebagai ayat-ayat Allah yang terbentang di hadapan manusia:

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat 51:20-21)

Kalau alam dijadikan sumber pengetahuan mutlak, alam berisiko menjadi pengganti Tuhan. Tetapi kalau alam dipahami sebagai ayat, pohon, ombak, dan bahkan keheningan bisa menjadi “bahasa”, bukan karena benda-benda itu Tuhan, melainkan karena Tuhan dikenali melalui tanda-tanda-Nya.

Perbedaan ini terlihat kecil dalam kalimat, tetapi besar secara metafisik. Ia menentukan apakah pengalaman mendengar “suara semesta” berhenti pada semesta itu sendiri (dan diam-diam menobatkannya sebagai yang ilahi), atau menembus semesta menuju Yang menciptakannya, sebuah pembedaan yang dalam tasawuf disebut sebagai gerak dari ayat menuju Yang Ditandai (al-madlul).

Ilham, Bukan Wahyu

Pengalaman automatic writing yang digambarkan Mustika, jawaban yang mengalir tanpa terasa direncanakan, adalah fenomena batin yang nyata dan banyak dilaporkan lintas tradisi spiritual. Tasawuf tidak menafikan fenomena semacam ini, tetapi menolak untuk buru-buru menamainya “suara Tuhan”.

Dalam pengalaman batin manusia bercampur banyak lapisan: akal, ingatan, intuisi, bawah sadar, dan sesekali ilham, lintasan makna yang hadir ke dalam hati. Tetapi dalam akidah Islam, kenabian telah berakhir dan wahyu memiliki kedudukan yang khusus dan tertutup; ilham tidak setara dengan wahyu, dan karenanya tidak otomatis sahih sebagai kebenaran metafisik.

Tradisi tasawuf mengenal istilah ilham sebagai sesuatu yang berbeda dari wahyu. Imam Al-Ghazali, misalnya, dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din membedakan antara ilham yang datang dari malaikat (yang disebut ilham malakuti) dan ilham yang datang dari setan atau hawa nafsu (ilham nafsani atau ilham syaithani). Karena itu, seorang salik (pejalan spiritual) tidak diperkenankan menerima begitu saja setiap bisikan batin yang dirasakannya, melainkan wajib mengujinya dengan tiga kriteria utama: kesesuaiannya dengan Al-Qur’an, konsistensinya dengan Sunnah, dan tuntunan dari guru spiritual yang mursyid.

Pertanyaan yang diajukan tasawuf terhadap pengalaman semacam ini bukan “apakah itu nyata”, melainkan “apa yang membuatmu yakin suara yang muncul di dalam dirimu berasal dari Tuhan, bukan dari dirimu sendiri?”, pertanyaan yang menuntut kerendahan hati, bukan penolakan.

DEBAT ILMIAH

Tasawuf membedakan “aku mendapatkan ilham” dari “Tuhan berbicara langsung kepadaku”. Yang pertama dapat ditempatkan secara hati-hati dalam kerangka tasawuf sebagai pengalaman batin yang layak direnungkan. Yang kedua adalah klaim epistemik yang jauh lebih berat dan menuntut kehati-hatian luar biasa, sebab ego manusia sangat mudah menyamar sebagai suara yang lebih tinggi dari dirinya.

Karena itu tradisi tasawuf mengembangkan tazkiyatun nafs, pembersihan diri dari ego, kepentingan, dan khayalan pribadi, sebagai prasyarat sebelum seseorang layak menafsirkan pengalaman batinnya. Semakin bersih hati seseorang, semakin ia berhati-hati mengklaim “ini dari Tuhan”, bukan semakin berani mengklaimnya.

Semesta sebagai Metafora yang Menembus, Bukan yang Berhenti

Dibaca dengan kerangka tasawuf, gagasan “semesta berbicara” sesungguhnya dapat dipahami secara lebih dalam tanpa perlu ditolak mentah-mentah.

Semesta tidak memerlukan mulut untuk berbicara: kematian berbicara, kelahiran berbicara, ombak berbicara, kesunyian berbicara, bahkan kehilangan berbicara. Tetapi yang mendengar bukan telinga, yang mendengar adalah kesadaran. Ini berdekatan dengan cara tasawuf memandang alam sebagai ayatullah: alam menjadi tanda, hati menjadi pembaca, kesadaran menjadi ruang penerimaan, dan makna terbuka di dalam batin.

Baca Juga :  Misteri Hajar Aswad: Batu dari Surga atau Meteorit Purba? Begini Fakta Ilmiahnya

Fenomena ini dalam tradisi tasawuf dikenal dengan istilah tadabbur, merenungkan ciptaan Allah sebagai jalan menuju pengenalan akan Sang Pencipta. Al-Qur’an mengajak manusia untuk melakukan tadabbur atas langit, bumi, pergantian malam dan siang, serta segala yang ada di dalamnya, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali ‘Imran 3:190-191:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.'”

Namun tasawuf menambahkan satu syarat yang menentukan arah gagasan ini: jangan berhenti pada alam. Tujuan tasawuf bukan terpesona pada tanda, melainkan menembus tanda menuju Yang Ditandai. Di titik inilah “semesta bicara” bisa menjadi jalan masuk yang sah menuju kesadaran akan Tuhan, atau berhenti menjadi pemujaan diam-diam terhadap alam itu sendiri, tergantung ke mana kesadaran itu diarahkan setelah tanda-tanda itu didengar.

Pulang”, Pulang ke Mana?

Judul lengkap buku Mustika, Ingatkan Jiwamu untuk Pulang, membuka pertanyaan yang sangat relevan bagi tasawuf: pulang ke mana?

Dalam bahasa tasawuf, jawabannya bukan “pulang kepada semesta”, melainkan pulang dari keterpisahan menuju kesadaran akan Tuhan. Manusia menghabiskan hidupnya mengejar sesuatu di luar dirinya, harta, nama, kedudukan, pengakuan, bahkan pengalaman spiritual itu sendiri, sampai suatu saat ia menyadari bahwa yang selama ini dicarinya bukan benda di luar dirinya.

Tasawuf menyebut kesadaran ini sebagai inabah (kembali kepada Allah), sebagaimana firman-Nya:

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. Az-Zumar 39:54)

Dalam pengertian inilah gagasan “pulang” pada Mustika dapat dibaca selaras dengan kerangka tasawuf, sejauh “pulang” dimaknai sebagai kembalinya kesadaran, bukan sebagai peleburan diri ke dalam alam.

Konsep “pulang” dalam tasawuf juga sering diistilahkan dengan ruju’ ila Allah, kembali kepada Allah, yang bukan berarti perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perpindahan kesadaran dari kelalaian (ghaflah) menuju kehadiran (hudhur). Seorang sufi yang telah mencapai derajat ini tidak lagi melihat alam sebagai sesuatu yang terpisah dari Tuhan, tetapi ia juga tidak menyamakan alam dengan Tuhan; ia melihat alam sebagai cermin yang memantulkan cahaya Ilahi, sebagaimana diajarkan dalam konsep tajalli.

Garis Batas yang Harus Dijaga

Titik paling penting jika gagasan Mustika hendak dimasukkan ke dalam kajian tasawuf adalah menjaga satu garis batas: tasawuf tidak identik dengan panteisme. Bukan “Tuhan sama dengan semesta”, dan juga bukan “kesadaran manusia sama dengan Tuhan”. Hubungan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluk harus tetap dibedakan.

Betul bahwa dalam tasawuf falsafi, melalui konsep tajalli (penampakan Tuhan pada ciptaan) dan wahdat al-wujud (kesatuan wujud), ditemukan bahasa yang sangat dalam tentang penyaksian terhadap Tuhan melalui segala sesuatu. Tetapi bahasa itu tidak sesederhana “semua adalah Tuhan”; ia adalah medan perdebatan panjang dalam sejarah tasawuf sendiri, antara lain lewat tokoh seperti Ibnu ‘Arabi, dan tidak pernah menjadi pandangan tunggal yang disepakati bulat.

Ibnu ‘Arabi sendiri, meskipun sering dikaitkan dengan panteisme, sebenarnya dengan tegas membedakan antara wujud al-Haqq (Wujud Yang Benar, yaitu Tuhan) dan wujud al-khalq (wujud ciptaan). Apa yang beliau maksudkan dengan wahdat al-wujud lebih dekat pada kesatuan dalam penyaksian (wahdat al-syuhud), bahwa seorang sufi yang telah mencapai puncak makrifat hanya melihat satu Wujud di balik segala sesuatu, bukan bahwa ciptaan secara ontologis sama dengan Tuhan.

Perdebatan ini menunjukkan betapa rumitnya bahasa spiritual dan betapa mudahnya kesalahpahaman terjadi ketika seseorang tidak berhati-hati dalam merumuskan pengalaman batinnya ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh orang lain.

BATAS KLAIM

Ketika Mustika berbicara tentang “menyatu dengan semesta”, tulisan ini tidak memiliki akses langsung untuk memastikan apa yang beliau maksudkan dengan “menyatu”, apakah hilangnya rasa keterpisahan ego (yang masih dapat dibaca secara spiritual dalam kerangka tasawuf), atau identitas ontologis antara manusia dan Tuhan (yang akan memasuki perdebatan jauh lebih serius dalam tasawuf falsafi).

Data biografis tentang Mustika dan bukunya dalam tulisan ini bersumber dari rujukan sekunder di internet (di antaranya Lenteraesai.id), bukan dari pembacaan langsung atas karya aslinya secara menyeluruh, sehingga penafsiran atas gagasannya di sini bersifat tentatif dan terbuka untuk dikoreksi bila teks aslinya dibaca lebih utuh.

Baca Juga :  Doa Menyembelih Hewan Kurban Sesuai Sunnah

Siapa yang Mendengar?

Di sinilah pertanyaan metodologis yang selama ini dipakai dalam kajian-kajian sejenis dapat dinaikkan satu tingkat.

Bila pertanyaan yang biasa diajukan adalah “siapa yang mengamati?”, terhadap gagasan “semesta berbicara” pertanyaannya menjadi: siapa yang mendengar ketika semesta berbicara? Siapa yang menyadari bahwa ia mendengar? Dan akhirnya: apakah kesadaran itu sendiri adalah Tuhan, ataukah ia makhluk yang menerima tanda-tanda Tuhan?

Dalam tradisi tasawuf, pertanyaan-pertanyaan ini mengarah pada pembahasan tentang ruh (jiwa) dan nafs (ego). Al-Qur’an menyatakan:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'” (QS. Al-Isra’ 17:85)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa hakikat kesadaran manusia adalah misteri Ilahi yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh akal. Namun demikian, tasawuf tetap mengajarkan bahwa kesadaran manusia, meskipun berasal dari tiupan roh Allah, tetaplah makhluk, bukan Pencipta.

Pertanyaan terakhir inilah titik temu sekaligus titik beda paling menarik antara pemikiran Mustika dan tasawuf Islam, dan ini bukan sekadar perbandingan antaragama, melainkan uji metodologis yang berlaku untuk setiap klaim pengalaman spiritual, dari siapa pun ia datang: pengalaman, lalu tafsir, lalu klaim sumber, lalu pengujian, baru kemudian kesimpulan.

Dengan alur ini, pengalaman batin seseorang tidak perlu diremehkan, tetapi juga tidak serta-merta diangkat menjadi kebenaran metafisik yang mengikat orang lain.

TITIK BALIK

Uji metodologis “pengalaman → tafsir → klaim sumber → pengujian → kesimpulan” adalah kerangka yang sama yang dipakai untuk membaca ajaran Guru Mulyadi Hasan pada tulisan sebelumnya: pengalaman batin dihormati, tetapi klaim tentang Tuhan tetap harus diuji terhadap teks dan akidah yang disandarkannya sendiri.

Penutup: Menerjemahkan Pengalaman, Bukan Menolaknya

Gagasan “semesta bicara” dari I Wayan Mustika, dibaca dari tasawuf, bukan sesuatu yang perlu ditolak atau diterima secara total. Ia adalah metafora yang bisa menjadi jalan masuk yang sah menuju kesadaran akan Tuhan, selama alam ditempatkan sebagai ayat dan bukan sebagai sumber, selama ilham tidak dinaikkan derajatnya menjadi wahyu, dan selama “pulang” dimaknai sebagai kembalinya kesadaran kepada Allah, bukan peleburan diri ke dalam semesta.

Titik-titik itulah yang membedakan sebuah pengalaman spiritual yang mendalam dari klaim metafisik yang gegabah — dan pembedaan itu, dalam tasawuf, justru adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap pengalaman batin itu sendiri.

Tasawuf tidak pernah anti-pengalaman; ia justru dibangun di atas pengalaman batin yang intens. Tetapi tasawuf juga tidak pernah membiarkan pengalaman itu tanpa tafsir dan tanpa uji. Sebab dalam perjalanan spiritual, tidak semua yang terasa benar adalah benar, dan tidak semua yang terasa suci berasal dari Yang Suci. Di sinilah perlunya ilmu, guru, dan kesabaran untuk tidak terburu-buru menyimpulkan, sebuah pesan yang barangkali juga sejalan dengan semangat Mustika sendiri ketika ia menuliskan pertanyaan dan membiarkan jawaban mengalir: keheningan, keterbukaan, dan keberanian untuk tidak memaksakan makna sebelum waktunya.

AGENDA RISET / DISKUSI LANJUT

1. Membaca langsung karya-karya I Wayan Mustika (Dialog Spiritual, Saat Semesta Bicara) secara utuh untuk memverifikasi apakah gagasan “menyatu dengan semesta” di dalamnya benar-benar mengarah pada peleburan ontologis, atau pada pembubaran ego sebagaimana dibaca di atas.

2. Menelusuri titik temu dan titik beda antara konsep “menyatu” pada Mustika dengan konsep tajalli dan wahdat al-wujud dalam tasawuf falsafi Ibnu ‘Arabi, agar perbandingan tidak berhenti pada kesan permukaan.

3. Mengkaji lebih lanjut konsep ilham dalam tasawuf, bagaimana ia dibedakan dari wahyu, bagaimana ia diuji, dan bagaimana ia ditempatkan dalam hierarki sumber pengetahuan dalam Islam, sebagai kerangka untuk membaca pengalaman automatic writing Mustika.

4. Menelusuri pandangan para sufi Nusantara tentang hubungan antara alam dan Tuhan, misalnya Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, atau Abdurrauf al-Singkili, untuk melihat apakah ada tradisi lokal yang dapat menjadi jembatan dialog antara gagasan Mustika dan tasawuf.

Rujukan ayat yang dibahas: QS. Adz-Dzariyat 51:20-21; QS. Ali ‘Imran 3:190-191; QS. Az-Zumar 39:54; QS. Al-Isra’ 17:85.

Catatan Metodologis: Rujukan biografis tentang I Wayan Mustika dan bukunya dalam tulisan ini bersumber dari rujukan sekunder daring (a.l. Lenteraesai.id) dan belum diverifikasi melalui pembacaan langsung karya aslinya secara menyeluruh, lihat catatan pada kotak BATAS KLAIM.

Penulis : Mohammad Basyir Zubair — EMBAS

Berita Terkait

5 Keutamaan Bersiwak dalam Islam, Sunnah Rasulullah yang Menjaga Kebersihan dan Mendatangkan Ridha Allah
10 Ide Olahan Daging Kurban Selain Sate dan Gulai, Enak hingga Praktis untuk Idul Adha
Bolehkah Makan Sebelum Salat Idul Adha? Ini Sunnah Rasulullah SAW yang Jarang Diketahui
Jadwal dan Bacaan Takbiran Idul Adha 2026, Lengkap dengan Jenis Takbir
5 Tips Menyimpan dan Mengolah Daging Kurban Agar Awet
Pembagian Daging Kurban yang Benar Sesuai Syariat Islam
Libur Idul Adha 2026 Resmi Ditetapkan, Cek Jadwal Tanggal Merah dan Potensi Long Weekend
Jadwal Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 Lengkap dengan Niat dan Keutamaannya

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 05:00 WIB

5 Keutamaan Bersiwak dalam Islam, Sunnah Rasulullah yang Menjaga Kebersihan dan Mendatangkan Ridha Allah

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:00 WIB

10 Ide Olahan Daging Kurban Selain Sate dan Gulai, Enak hingga Praktis untuk Idul Adha

Selasa, 26 Mei 2026 - 23:00 WIB

Bolehkah Makan Sebelum Salat Idul Adha? Ini Sunnah Rasulullah SAW yang Jarang Diketahui

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:00 WIB

Jadwal dan Bacaan Takbiran Idul Adha 2026, Lengkap dengan Jenis Takbir

Selasa, 26 Mei 2026 - 13:00 WIB

5 Tips Menyimpan dan Mengolah Daging Kurban Agar Awet

Berita Terbaru