Sanksi Chip AS Berbalik Arah, Huawei Siapkan Teknologi Setara 1,4 Nanometer

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com – Kebijakan pembatasan ekspor chip canggih yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap China dalam beberapa tahun terakhir ternyata belum menghasilkan dampak yang diharapkan Washington. Sebaliknya, langkah tersebut justru mempercepat upaya Beijing untuk membangun kemandirian teknologi semikonduktor dan mengurangi ketergantungan terhadap produk Barat.

Sejak akses terhadap berbagai teknologi chip mutakhir dibatasi, pemerintah China dan perusahaan-perusahaan teknologi domestik mulai menggenjot pengembangan industri semikonduktor nasional. Strategi tersebut kini mulai menunjukkan hasil yang signifikan, terutama di sektor kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berperforma tinggi.

Ironisnya, ketika Amerika Serikat mulai melonggarkan sebagian pembatasan dan membuka peluang ekspor chip H200 milik Nvidia ke pasar China, respons dari Beijing tidak lagi seantusias beberapa tahun lalu. Hingga kini, China belum memberikan persetujuan resmi terhadap masuknya chip tersebut, sebuah sinyal bahwa negara itu semakin percaya diri dengan kemampuan teknologi dalam negerinya.

Salah satu perusahaan yang paling diuntungkan dari situasi ini adalah Huawei. Raksasa teknologi asal Shenzhen tersebut kini semakin agresif memperluas pengembangan chip canggih untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus menantang dominasi pemain global.

Baca Juga :  Jet Tempur F-35 Inggris Hancurkan Drone Iran di Langit Yordania, Eskalasi Konflik Timur Tengah Meningkat

Dalam paparan terbarunya, Huawei mengungkapkan ambisi untuk mengembangkan chip berperforma tinggi dengan kepadatan transistor yang setara dengan proses manufaktur 1,4 nanometer pada tahun 2031. Target tersebut dinilai sangat ambisius mengingat akses China terhadap berbagai peralatan litografi paling mutakhir masih dibatasi oleh kebijakan ekspor Amerika Serikat.

Rencana tersebut disampaikan dalam Simposium Internasional IEEE tentang Sirkuit dan Sistem (ISCAS) 2026 yang berlangsung di Shanghai. Dalam forum itu, Presiden Bisnis Semikonduktor Huawei sekaligus Direktur Komite Ilmuwan Huawei, He Tingbo, memperkenalkan konsep baru yang disebut sebagai Hukum Skala Tau.

Menurut Huawei, pendekatan ini hadir sebagai alternatif ketika industri semikonduktor global mulai menghadapi batas fisik dalam memperkecil ukuran transistor. Alih-alih hanya mengandalkan proses fabrikasi yang semakin kecil, Hukum Skala Tau berfokus pada pengurangan waktu yang dibutuhkan sinyal dan data untuk bergerak di dalam chip maupun sistem komputasi.

Baca Juga :  Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Usai WHO Tetapkan Ebola Darurat Kesehatan Global

Konsep tersebut diyakini mampu meningkatkan kinerja serta efisiensi chip tanpa harus sepenuhnya bergantung pada teknologi manufaktur paling canggih yang saat ini sulit diakses China akibat sanksi perdagangan.

Huawei juga mengumumkan bahwa generasi terbaru chip Kirin akan mulai diperkenalkan pada pertengahan 2026. Produk tersebut disebut menjadi chip pertama yang memanfaatkan arsitektur baru bernama LogicFolding, sebuah desain yang diklaim mampu mempersingkat jalur koneksi internal sehingga meningkatkan performa secara signifikan.

Perusahaan itu mengungkapkan bahwa selama enam tahun terakhir mereka telah merancang dan memproduksi massal sekitar 381 jenis chip yang memanfaatkan prinsip Hukum Skala Tau untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari perangkat smartphone hingga komputasi berbasis kecerdasan buatan.

Meski Huawei belum mempublikasikan data performa secara rinci, target pengembangan chip setara 1,4 nanometer telah menarik perhatian industri global. Jika berhasil direalisasikan, pencapaian tersebut berpotensi mengubah peta persaingan semikonduktor dunia dan memperkuat posisi China sebagai salah satu kekuatan utama dalam teknologi chip generasi mendatang.

 

Berita Terkait

Gelombang Panas Ekstrem Hantam Prancis, 40 Orang Tewas Tenggelam Saat Warga Cari Kesejukan
Pemerintah Pastikan Perlindungan TKW YY Korban Penganiayaan di Malaysia Meski Berangkat Lewat Jalur Nonprosedural
Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah
Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen
Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran
Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh Berjam-jam, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang di Perbatasan
PBB Peringatkan Dunia Hadapi Rekor Suhu Panas Baru hingga 2030, El Nino Diprediksi Menguat
Iran Akhiri Pemadaman Internet 88 Hari, Warga Mengaku Seperti “Bebas dari Penjara”

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:00 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Hantam Prancis, 40 Orang Tewas Tenggelam Saat Warga Cari Kesejukan

Selasa, 16 Juni 2026 - 07:41 WIB

Pemerintah Pastikan Perlindungan TKW YY Korban Penganiayaan di Malaysia Meski Berangkat Lewat Jalur Nonprosedural

Senin, 8 Juni 2026 - 01:00 WIB

Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:00 WIB

Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB