Prof. Uli Kozok Ungkap Alasan Naskah Kuno Kerinci Disebut Kitab Tanjung Tanah

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 09:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI, Pribhumi.com — Pembahasan mengenai asal-usul penamaan Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah (KUTT) kembali menjadi perhatian dalam diskusi sejarah dan adat Sakti Alam Kerinci. Hal tersebut mencuat dalam forum WhatsApp Group Peduli Adat Sakti Alam Kerinci (PASAK), yang membahas latar belakang penamaan naskah kuno yang menjadi salah satu peninggalan penting Kerinci.

Filolog, sejarawan, dan paleograf asal Jerman, Prof. Dr. Ulrich Kozok, menjelaskan bahwa penyebutan nama “Tanjung Tanah” berkaitan dengan kebiasaan penamaan naskah berdasarkan lokasi tempat penemuannya. Menurutnya, nama tersebut bukan berarti isi naskah hanya berlaku untuk wilayah Tanjung Tanah, melainkan mencakup kawasan Kerinci secara lebih luas.

“Ya, saya yang menamakannya KUTT. Nama aslinya Nitisarasamuccaya. Demikian juga judull buku yang saya tulis dan yang pernah saya bagi di forum ini: A 14th Century Malay Code of Laws: The Nitisarasamuccaya” sebut nya

Baca Juga :  Bahaya Anak Makan Sambil Nonton: Kebiasaan Sepele yang Berdampak Besar bagi Tumbuh Kembang

Prof. Kozok menerangkan, penamaan sebuah benda atau peninggalan sejarah sering kali mengikuti lokasi ditemukannya. Ia memberi contoh dalam ilmu sejarah dan arkeologi, seperti penamaan manusia purba Homo neanderthalensis yang berasal dari lokasi penemuannya di lembah Neander, Jerman.

Menurutnya, KUTT juga mengalami hal serupa. Naskah yang ditemukan di Tanjung Tanah kemudian dikenal dengan nama Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, meskipun kandungannya berkaitan dengan aturan dan kehidupan masyarakat Kerinci pada masa lampau.

Dari isi KUTT, diketahui bahwa nama Kerinci telah dikenal sejak sekitar tahun 1370. Prof. Kozok menyebut nama Kerinci diperkirakan memiliki hubungan dengan istilah dari bahasa Tamil, yaitu “Kurinji” (குறிஞ்சி), yang merujuk pada bunga dari kelompok Strobilanthes yang menjadi simbol wilayah pegunungan.

Baca Juga :  Kementerian Kebudayaan Tetapkan 430 Cagar Budaya Nasional Baru pada 2026

Bunga kurinji dikenal sebagai tanaman yang tumbuh di kawasan dataran tinggi. Salah satu jenis yang terkenal adalah nilakurinji dengan bunga berwarna biru. Sementara itu, beberapa tanaman yang masih satu kelompok, seperti keji beling atau pecah kaca, juga ditemukan tumbuh di wilayah Kerinci.

Penjelasan tersebut semakin memperkuat nilai sejarah KUTT sebagai salah satu sumber penting untuk memahami perjalanan budaya, bahasa, dan identitas masyarakat Kerinci sejak masa lampau.

Berita Terkait

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap
Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:55 WIB

“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”

Berita Terbaru