Jakarta, Pribhumi.com – Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata upah pekerja di Indonesia masih berada di angka Rp 3,29 juta per bulan. Data ini bersumber dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 yang dirilis pada 5 Mei 2026.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa rata-rata upah pekerja laki-laki mencapai Rp 3,55 juta, sementara pekerja perempuan berada di angka Rp 2,80 juta. Perbedaan ini mencerminkan masih adanya kesenjangan pendapatan berdasarkan gender.
Selain itu, tingkat pendidikan terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap besaran gaji yang diterima. Pekerja dengan pendidikan rendah cenderung memperoleh upah lebih kecil dibandingkan mereka yang memiliki pendidikan tinggi.
Rincian rata-rata gaji berdasarkan jenjang pendidikan adalah sebagai berikut:
Lulusan SD ke bawah: Rp 2,23 juta
Lulusan SMP: Rp 2,55 juta
Lulusan SMA: Rp 3,08 juta
Lulusan SMK: Rp 3,17 juta
Lulusan Diploma: Rp 4,04 juta
Lulusan D4 hingga S3: Rp 4,77 juta
Data tersebut menunjukkan bahwa pekerja dengan pendidikan tinggi bisa memperoleh penghasilan hingga dua kali lipat dibandingkan lulusan SD ke bawah.
Jika dilihat dari sektor pekerjaan, bidang keuangan dan asuransi menjadi yang paling menjanjikan dengan rata-rata gaji mencapai Rp 5,05 juta. Disusul sektor pertambangan sebesar Rp 4,95 juta, serta penerbitan dan telekomunikasi sebesar Rp 4,75 juta.
Sebaliknya, beberapa sektor masih mencatatkan upah rendah. Aktivitas jasa lainnya menjadi yang terendah dengan rata-rata Rp 2 juta, diikuti sektor pertanian Rp 2,43 juta, serta akomodasi dan makan minum Rp 2,59 juta.
Dengan rata-rata gaji nasional Rp 3,29 juta, kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja masih berada pada batas tipis antara pendapatan dan kebutuhan hidup. BPS mencatat, rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat perkotaan pada Desember 2025 berkisar antara Rp 1,4 juta hingga Rp 2,9 juta per bulan.
Besaran pengeluaran tersebut dapat berbeda di tiap daerah, tergantung harga kebutuhan pokok dan layanan jasa, sehingga daya beli masyarakat pun sangat dipengaruhi oleh kondisi wilayah masing-masing.






