Jambi, Pribhumi.com – Pemerintah pusat bergerak cepat dalam memulihkan sektor perkebunan kopi di Provinsi Aceh yang terdampak bencana banjir bandang pada November 2025. Melalui Kementerian Pertanian, dana sebesar Rp30 hingga Rp40 miliar disiapkan untuk mendukung rehabilitasi lahan serta pengembangan bibit kopi unggul.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa program pemulihan ini akan melibatkan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Kolaborasi tersebut difokuskan pada pembangunan pusat pembibitan guna mempercepat proses replanting di wilayah terdampak.
Menurut Amran, kerja sama dengan pihak kampus diharapkan mampu menghadirkan solusi jangka panjang, tidak hanya memulihkan lahan yang rusak tetapi juga meningkatkan kualitas produksi kopi Aceh ke depan.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah dataran tinggi Gayo pada akhir November lalu berdampak besar terhadap perkebunan kopi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kedua daerah ini dikenal sebagai sentra produksi kopi arabika unggulan Indonesia.
Data sementara dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mencatat, luas kebun kopi yang mengalami kerusakan mencapai 12.638 hektare, dengan tingkat kerusakan mulai dari sedang hingga berat. Angka tersebut masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan yang belum sepenuhnya rampung.
Kerusakan terparah tercatat di Kecamatan Pegasing dengan luas mencapai 2.905 hektare, disusul Kecamatan Bintang dan Rusip Antara yang masing-masing mengalami kerusakan sekitar 2.000 hektare. Secara keseluruhan, dampak bencana menyebar di 14 kecamatan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Upaya pemulihan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali perekonomian petani kopi di Aceh sekaligus menjaga reputasi kopi Gayo sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia di pasar global.






