Adat Nyato, Syarak Nyalo: Menjaga Jati Diri di Tengah Arus Zaman

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 30 Maret 2026 - 14:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safwandi., S.AP., DPT (Kepalo Sembah), Semurup, Kerinci – Sekjend Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci 

Pribhumi.com

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, masyarakat kerap dihadapkan pada pertanyaan mendasar: masihkah kita berpijak pada nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan? Bagi masyarakat Kerinci, falsafah “adat nyato, syarak nyalo” bukan sekadar ungkapan, melainkan pedoman hidup yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.

Falsafah ini menjadi pusaka berharga—sebuah ingatan kolektif sekaligus penentu arah bagi generasi ke generasi. Warih nak dijawat, walifah nak dijunjung, begitulah pesan yang terus dijaga. Nilai-nilai adat itu tidak lekang oleh waktu: idaknyo lapuk karno hujan, idaknyo lekang karno paneh. Ia tetap kokoh, meski diasak zaman, sebagaimana petatah-petitih adat di Bumi Sakti Alam Kerinci yang menegaskan keteguhan prinsip hidup masyarakatnya.

Adat adalah cerminan jati diri. Ia hidup dalam tata cara, sopan santun, serta aturan yang mengikat kehidupan bermasyarakat. Adat bukan sekadar simbol, tetapi benar-benar dijalankan—nyato—dalam setiap sendi kehidupan. Mulai dari musyawarah, penghormatan kepada yang tua, hingga menjaga harmoni sosial, semua berakar pada nilai-nilai adat yang luhur.

Baca Juga :  Menbud Fadli Zon: Lore Lindu Bukti Penting Peradaban Kuno Nusantara

Di sisi lain, syarak atau syariat merupakan cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Syarak nyalo mengandung makna bahwa ajaran agama tidak hanya dipahami, tetapi juga diamalkan dengan penuh kesadaran. Ia menjadi pedoman moral, penuntun akhlak, sekaligus benteng dari berbagai pengaruh negatif yang datang silih berganti.

Ungkapan adat mengingatkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan ini:

Bia tujuh kali murangkak pesap, pesap tirangkap bawah mansiro.

Bia tujuh kali bumi takirap, jangan diasak karang setio…

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa prinsip adat dan syarak tidak boleh digoyahkan. Sebab jika “karang setio” atau landasan kesetiaan itu runtuh, maka sendi-sendi kehidupan akan ikut hancur—nilai hilang, jati diri pudar, dan arah kehidupan menjadi kabur.

Karena itu, adat dan syarak harus berjalan seiring. Adat tanpa syarak berisiko kehilangan arah, sementara syarak tanpa adat akan terasa kering dalam praktik sosial. Keduanya saling menguatkan dan melengkapi, sebagaimana ungkapan:

Bungkan genap tahan uji, hukum adil tahan banding,

kalau adil hakim berbanding, adat dengan syarak samo dikaji.

Namun, tantangan hari ini semakin nyata. Modernisasi, globalisasi, dan pesatnya perkembangan teknologi membawa perubahan yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal. Generasi muda mulai menjauh dari akar budayanya, sementara ajaran agama terkadang hanya menjadi formalitas tanpa penghayatan mendalam.

Baca Juga :  Piagam Kuno Kerinci Ungkap Sistem Adat dan Hukum Syara’ di Era Kesultanan Jambi

Di sinilah peran semua pihak menjadi penting—tokoh adat, ulama, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat—untuk kembali meneguhkan komitmen bersama. Adat harus tetap hidup dalam keseharian, dan syarak harus terus menyala dalam setiap langkah kehidupan.

Menjaga adat bukan berarti menolak perubahan, melainkan menyaringnya dengan bijak. Mengamalkan syarak bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hidup. Jika keduanya tetap terjaga, maka masyarakat akan kokoh, berkarakter, dan tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman.

Pada akhirnya, melalui falsafah sederhana namun penuh makna ini, tersimpan harapan besar: semoga adat tetap nyata dalam kehidupan, dan syarak terus menyala sebagai cahaya penuntun. Dengan demikian, jati diri masyarakat Kerinci akan senantiasa terjaga dari generasi ke generasi.

Sebagaimana penutup petuah adat:

Kedarat kuap buleguh, mundaki batang rapudin,

kerat dikerat batang ku sakai.

Dingan berat samo dipikul, dingan ringan samo dijinjing,

baru negeri aman selesai.

 

Berita Terkait

Hafiful Hadi Sunliensyar, Akademisi Muda Kerinci yang Gigih Meneliti Manuskrip dan Warisan Budaya Nusantara
Safwandi, Tokoh Adat dan Media Lokal yang Konsisten Jaga Identitas Budaya Kerinci
Gunung Kerinci Masuk Daftar, Ini 7 Gunung Tertinggi di Indonesia
Kisah Qin Shi Huang, Kaisar China yang Terobsesi Hidup Abadi Namun Wafat di Usia 49 Tahun
Mengapa Warna Hitam Identik dengan Suasana Duka? Ini Sejarah dan Maknanya
Riset Ungkap Raja Eropa Lebih Dipercaya Dibanding Pemimpin Politik
Dokter Jerman Ini Bongkar Rahasia Pengobatan Dukun di Nusantara, Berujung Riset Ilmiah
Digitalisasi Gagal, Naskah Melayu Tertua Tanjung Tanah Kembali Jadi Sorotan

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:21 WIB

Safwandi, Tokoh Adat dan Media Lokal yang Konsisten Jaga Identitas Budaya Kerinci

Senin, 11 Mei 2026 - 02:00 WIB

Gunung Kerinci Masuk Daftar, Ini 7 Gunung Tertinggi di Indonesia

Minggu, 10 Mei 2026 - 21:00 WIB

Kisah Qin Shi Huang, Kaisar China yang Terobsesi Hidup Abadi Namun Wafat di Usia 49 Tahun

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:00 WIB

Mengapa Warna Hitam Identik dengan Suasana Duka? Ini Sejarah dan Maknanya

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:54 WIB

Riset Ungkap Raja Eropa Lebih Dipercaya Dibanding Pemimpin Politik

Berita Terbaru

Pendidikan

Beasiswa Garuda 2026 Gelombang 2 Segera Dibuka, Ini Syaratnya

Rabu, 20 Mei 2026 - 01:00 WIB

Kesehatan

WHO Tetapkan Ebola sebagai Darurat Kesehatan Global

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:00 WIB

Tips dan informasi

Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta, dari Rasa hingga Kandungan Kafein

Selasa, 19 Mei 2026 - 17:00 WIB