Dokter Jerman Ini Bongkar Rahasia Pengobatan Dukun di Nusantara, Berujung Riset Ilmiah

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 23:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jambi, Pribhumi.com — Rasa ingin tahu yang besar membawa seorang dokter asal Jerman menapaki jalur tak lazim dalam dunia medis. Ia justru tertarik mendalami praktik pengobatan tradisional yang dijalankan oleh para dukun di Nusantara, yang kala itu masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Kisah ini bermula pada abad ke-19 ketika Friedrich August Carl tiba di Hindia Belanda. Berbeda dari kebanyakan dokter Eropa yang mengandalkan ilmu kedokteran modern, Carl justru terpikat pada metode penyembuhan lokal yang sering dianggap tidak ilmiah.

Ia mulai mengamati langsung bagaimana para dukun mendiagnosis penyakit, meracik ramuan herbal, hingga memberikan pengobatan kepada pasien. Ketertarikannya muncul dari fenomena sederhana namun membingungkan: banyak orang justru sembuh setelah berobat ke dukun.

Carl kemudian mempertanyakan hal tersebut. Bagaimana mungkin metode yang tidak sesuai dengan standar medis Eropa bisa memberikan hasil? Apalagi pada masa itu, akses terhadap obat-obatan modern di Hindia Belanda sangat terbatas dibandingkan di Eropa.

Baca Juga :  MBG Difokuskan ke Daerah Rawan Stunting, Pemerintah Perkuat Intervensi Gizi Nasional

Fenomena ini ternyata bukan hanya menarik perhatian Carl. Banyak dokter Eropa lainnya juga merasakan adanya persaingan dengan dukun. Salah satu penyebabnya adalah akses layanan kesehatan. Dokter umumnya berada di kota, sementara mayoritas masyarakat tinggal di pedesaan. Selain itu, biaya pengobatan dokter relatif mahal dan prosedurnya masih dianggap asing oleh masyarakat.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat lebih memilih berobat ke dukun yang lebih mudah dijangkau dan sesuai dengan kepercayaan mereka.

Didorong rasa penasaran, Carl meneliti praktik tersebut secara mendalam. Ia menemukan bahwa meskipun dukun menggunakan mantra, inti dari pengobatan sebenarnya terletak pada penggunaan ramuan herbal dari tanaman lokal.

Namun, penggunaan obat herbal itu masih berbasis pengalaman turun-temurun, bukan kajian ilmiah. Hal inilah yang mendorong Carl untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna membuktikan efektivitasnya secara medis.

Ia mengumpulkan berbagai informasi dari masyarakat, pedagang, pasien, bahkan orang-orang terdekatnya. Tak jarang, ia juga melakukan eksperimen langsung, baik pada dirinya sendiri maupun pasien, untuk menguji khasiat ramuan tersebut.

Baca Juga :  Gunung Kerinci Masuk Daftar, Ini 7 Gunung Tertinggi di Indonesia

Hasil penelitiannya kemudian dituangkan dalam sebuah karya berjudul Pratische Waarnemingen Over Eenige Javaansche Geneesmiddelen, yang berisi catatan lengkap tentang berbagai obat herbal Jawa.

Dalam karyanya, Carl tidak hanya mendokumentasikan jenis-jenis tanaman obat, tetapi juga membandingkannya dengan pengobatan modern serta mengelompokkannya berdasarkan penyakit sesuai pendekatan medis ilmiah.

Temuan ini membawa dampak besar. Banyak dokter di Hindia Belanda mulai mempertimbangkan penggunaan obat herbal sebagai bagian dari pengobatan. Hal ini membuka jalan bagi integrasi antara pengobatan tradisional dan medis modern.

Berkat kontribusinya, nama Friedrich August Carl dikenal luas pada akhir abad ke-19. Ia pun dikenang sebagai salah satu pelopor dalam pengembangan dan penerapan pengobatan herbal Indonesia berbasis pendekatan ilmiah.

 

Berita Terkait

HBA Tutup Mubes I Debalang Negeri, Tekankan Penguatan Adat dan Marwah Negeri Jambi
Debalang Sungai Penuh dan Kerinci Hadiri Mubes Perdana, Perkuat Komitmen Jaga Marwah Adat
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
Jaga Adat Lamo Pusako Usang, Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Musyawarah dan Amanah Adat
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Struktur Paramenti Tigo Luhah Semurup Berpedoman pada ico Pakai
“Batakah Naik, Berjenjang Turun”, Safwandi Ungkap Tata Cara Penyelesaian Persoalan Adat Kerinci
Museum Tarik Klaim Aksara Minangkabau, Naskah Tanjung Tanah Justru Makin Kokoh Lewat Uji Ilmiah

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:03 WIB

HBA Tutup Mubes I Debalang Negeri, Tekankan Penguatan Adat dan Marwah Negeri Jambi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Debalang Sungai Penuh dan Kerinci Hadiri Mubes Perdana, Perkuat Komitmen Jaga Marwah Adat

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:24 WIB

H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:04 WIB

Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota

Selasa, 25 Agustus 2026 - 10:03 WIB

Jaga Adat Lamo Pusako Usang, Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Musyawarah dan Amanah Adat

Berita Terbaru