Jambi, Pribhumi.com – Nama tercatat dalam sejarah sebagai penguasa pertama yang berhasil menyatukan wilayah China menjadi satu kekaisaran besar. Namun di balik kejayaan dan ambisinya membangun negeri, sang kaisar juga dikenal karena obsesinya terhadap kehidupan abadi.
Ironisnya, penguasa yang begitu ingin hidup selamanya itu justru meninggal dunia sebelum mencapai usia 50 tahun.
Berdasarkan catatan sejarah, Qin Shi Huang lahir sekitar tahun 259 sebelum masehi dengan nama asli Zhao Zheng. Ia merupakan putra Raja Zhuangxiang dari negara Qin, salah satu kerajaan terkuat di wilayah China kuno saat itu.
Pada usia 13 tahun, Zheng resmi naik takhta sebagai penguasa Qin. Berkat kekuatan militer yang besar, kerajaan Qin kemudian berhasil menaklukkan wilayah-wilayah lain dan menyatukan China di bawah satu pemerintahan.
Setelah berhasil mempersatukan negeri, Zheng mengambil gelar Qin Shi Huang yang berarti Kaisar Berdaulat Pertama. Ia meyakini dinastinya akan bertahan hingga ribuan generasi.
Sebagai penguasa, Qin Shi Huang melakukan banyak reformasi besar. Ia membentuk sistem pemerintahan terpusat, membagi wilayah kekaisaran ke dalam distrik militer, serta memperkuat birokrasi dan kekuatan militer.
Selain itu, ia juga menetapkan standarisasi di berbagai bidang, mulai dari ukuran timbangan, sistem tulisan, hukum, hingga ukuran poros gerobak agar perdagangan dan administrasi berjalan seragam di seluruh wilayah kekaisaran.
Pada masa pemerintahannya pula pembangunan jalan raya, kanal, dan benteng pertahanan besar dilakukan. Benteng-benteng tersebut kemudian menjadi cikal bakal atau Tembok Besar China.
Di balik keberhasilannya membangun kekaisaran, Qin Shi Huang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia mistik, sihir, dan alkimia. Ia percaya ada ramuan tertentu yang mampu membuat manusia hidup abadi.
Karena obsesi tersebut, sang kaisar berkali-kali memerintahkan para tabib, ahli sihir, dan alkemis mencari obat keabadian. Bahkan ia mengirim ekspedisi ke wilayah laut timur yang diyakini menyimpan rahasia kehidupan abadi.
Namun pencarian itu tidak pernah membuahkan hasil.
Pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya, Qin Shi Huang mulai kehilangan kepercayaan rakyat. Ia dikenal hidup tertutup dan sangat curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. Beberapa upaya pembunuhan terhadap dirinya juga sempat terjadi.
Pada tahun 210 sebelum masehi, Qin Shi Huang meninggal dunia saat melakukan perjalanan inspeksi ke wilayah kekaisarannya. Saat itu usianya baru 49 tahun.
Setelah wafat, jasadnya dimakamkan di kompleks pemakaman raksasa yang dibangun selama puluhan tahun. Kompleks makam tersebut kini dikenal dunia karena keberadaan atau Patung Prajurit Terakota yang dibuat sebagai penjaga sang kaisar di alam keabadian.
Situs makam Qin Shi Huang mulai ditemukan pada tahun 1974 dan kemudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh pada 1987.
Hingga kini, Qin Shi Huang tetap dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah China sekaligus simbol ambisi besar manusia untuk menaklukkan kematian.






