Seloka sebagai Bukti Peradaban Kuno Kerinci yang Sarat Nilai Budaya

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kerinci, Pribhumi.com — Seloka tidak sekadar rangkaian kata berirama, tetapi menjadi jejak penting yang menandai tingginya peradaban masyarakat kuno di wilayah Kerinci. Dalam tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, seloka mengandung pesan moral, hukum adat, hingga pandangan hidup yang mencerminkan kecerdasan kolektif masyarakat masa lampau.

Para peneliti budaya menilai, keberadaan seloka menunjukkan bahwa masyarakat Kerinci kuno telah memiliki sistem komunikasi simbolik yang matang. Bahasa yang digunakan tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna dan tersusun dengan struktur yang mencerminkan pemikiran filosofis. Hal ini menegaskan bahwa masyarakat Kerinci bukanlah komunitas sederhana, melainkan bagian dari peradaban yang telah berkembang dengan nilai-nilai intelektual dan estetika tinggi.

Seloka sering digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari upacara adat, musyawarah, hingga penyampaian nasihat kepada generasi muda. Dalam praktiknya, seloka menjadi media untuk menjaga norma sosial dan memperkuat identitas budaya. Melalui ungkapan-ungkapan tersebut, masyarakat diajarkan tentang etika, hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama.

Baca Juga :  Dugaan Penggelembungan Anggaran PJU Kerinci, Nama Edminuddin Mengemuka di Persidangan

Selain itu, seloka juga menjadi bukti bahwa tradisi literasi di Kerinci tidak hanya hadir dalam bentuk tulisan, tetapi juga dalam bentuk lisan yang kaya dan terstruktur. Tradisi ini bahkan mampu bertahan lintas generasi tanpa kehilangan makna aslinya, menunjukkan adanya sistem pengajaran dan pewarisan budaya yang kuat.

Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK), Safwandi,. Dpt. Yang kerap disapa Andi Andalas menegaskan bahwa seloka merupakan identitas utama masyarakat Kerinci yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan adat. Menurutnya, seloka bukan sekadar sastra, melainkan “hukum yang hidup” dalam bentuk bahasa kias.

“Seloka itu bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dipahami dan dijalankan. Di dalamnya ada aturan, ada petuah, bahkan ada sanksi sosial yang tersirat. Inilah bukti bahwa nenek moyang kita telah memiliki sistem nilai yang tinggi,” ujar Safwandi.

Baca Juga :  Perombakan Kemenkeu: Dua Dirjen Dicopot, Posisi Strategis Segera Diisi

Ia juga menambahkan bahwa seloka menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Kerinci telah mengenal konsep tata kelola sosial jauh sebelum hadirnya sistem hukum modern. Oleh karena itu, menurutnya, pelestarian seloka bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga menjaga jati diri dan kearifan lokal masyarakat Kerinci.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan seloka kini menghadapi tantangan. Minimnya dokumentasi dan berkurangnya penutur aktif membuat tradisi ini berpotensi memudar. Safwandi mendorong generasi muda untuk kembali mempelajari dan menghidupkan seloka dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui pendidikan dan media digital.

Seloka bukan hanya warisan budaya, tetapi juga cermin peradaban. Dari untaian kata yang sederhana, tersimpan jejak pemikiran besar yang menjadi bukti bahwa Kerinci pernah menjadi pusat kebudayaan yang kaya dan beradab tinggi.

Berita Terkait

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap
Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:55 WIB

“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”

Berita Terbaru