JAKARTA, Pribhumi.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan upaya mitigasi bencana hidrometeorologi di Pulau Sumatera melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga Januari 2026, sebanyak 1.201 penerbangan telah dilaksanakan guna mengendalikan curah hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor.
Langkah strategis ini dilakukan menyusul meningkatnya frekuensi bencana di sejumlah wilayah Sumatera dalam beberapa pekan terakhir. BNPB menilai cuaca ekstrem dapat menghambat proses evakuasi korban, distribusi bantuan, serta pemulihan infrastruktur pascabencana jika tidak dikendalikan sejak dini.
Skema Operasi dan Area Sasaran
Pelaksanaan OMC dilakukan melalui koordinasi teknis lintas instansi dengan tiga tahapan utama. Pertama, identifikasi awan yang memiliki kandungan uap air tinggi melalui pemantauan meteorologis. Kedua, penyemaian awan menggunakan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) yang disebarkan menggunakan pesawat. Ketiga, presipitasi dini, yakni memicu hujan turun lebih awal di wilayah aman sebelum awan bergerak menuju kawasan permukiman atau daerah rawan bencana.
Berdasarkan data BNPB pada periode 22 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026, operasi modifikasi cuaca difokuskan pada tiga provinsi utama dengan rincian sebagai berikut:
Aceh: 449 sorti penerbangan dengan total bahan semai 431.600 kilogram
Sumatera Utara: 368 sorti penerbangan dengan total bahan semai 322.000 kilogram
Sumatera Barat: 384 sorti penerbangan dengan total bahan semai 381.325 kilogram
Upaya Menjaga Keselamatan dan Pemulihan
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa OMC menjadi instrumen penting dalam mengurangi intensitas hujan ekstrem. Menurutnya, langkah ini tidak hanya bertujuan melindungi masyarakat, tetapi juga memastikan keselamatan petugas di lapangan serta menjaga kelancaran pemulihan sosial dan ekonomi di wilayah terdampak.
“Pengendalian hujan diperlukan agar proses evakuasi, perbaikan infrastruktur, dan distribusi logistik dapat berjalan tanpa hambatan cuaca,” ujarnya.
Imbauan untuk Masyarakat
BNPB mengingatkan bahwa meskipun operasi modifikasi cuaca terus dilakukan, potensi cuaca ekstrem tetap dapat terjadi. Masyarakat diminta untuk tetap waspada, menghindari aktivitas di kawasan rawan seperti bantaran sungai dan lereng curam, serta menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalkan risiko banjir.






