Prediksi Idul Fitri 2026: Hilal Syawal 1447 H Sulit Diamati, Ini Penjelasan Observatorium Bosscha

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 19 Maret 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Pribhumi.com – Penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 semakin dekat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Observatorium Bosscha dari Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali merilis kajian astronomi sebagai rujukan penting dalam penentuan awal bulan Syawal di Indonesia.

Secara astronomi, pergantian dari Ramadan ke Syawal ditandai dengan kemunculan hilal atau bulan sabit muda yang diamati melalui metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan langsung).

Berdasarkan perhitungan posisi Bulan terhadap Matahari pada 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, posisi Bulan berada sangat dekat dengan Matahari di langit barat saat Matahari terbenam. Kondisi ini membuat peluang terlihatnya hilal menjadi cukup menantang.

Baca Juga :  Prancis Perketat Dunia Digital: Anak di Bawah 15 Tahun Dilarang Gunakan Media Sosial

Dari hasil analisis, elongasi geosentrik atau jarak sudut Bulan terhadap Matahari dari pusat Bumi di wilayah Indonesia berkisar antara 4,6° hingga 6,2°. Sementara elongasi toposentrik, yakni dari sudut pandang pengamat di permukaan Bumi, berada di kisaran 4,0° hingga 5,5°.

Tak hanya itu, ketinggian Bulan saat Matahari terbenam juga tergolong rendah, yakni antara 0° hingga 3° di atas ufuk, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat. Posisi ini menunjukkan bahwa hilal berada sangat dekat dengan Matahari dan sulit untuk diamati dengan mata telanjang.

Secara ilmiah, kondisi tersebut masuk dalam kategori batas kritis visibilitas hilal. Artinya, keberhasilan pengamatan sangat bergantung pada kondisi cuaca, kejernihan atmosfer, serta pengalaman dan metode yang digunakan oleh para pengamat.

Baca Juga :  KPK Periksa Lebih dari 20 Forwarder di Kasus Korupsi Impor Bea Cukai

Untuk memastikan kondisi tersebut, tim Observatorium Bosscha akan melakukan pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di Lembang. Selain itu, dengan dukungan Kementerian Agama Republik Indonesia, pengamatan juga dilakukan di Observatorium Lhok Nga, Aceh.

Pemilihan Aceh sebagai lokasi pengamatan didasarkan pada posisi Bulan di wilayah tersebut yang berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal yang saat ini digunakan. Hal ini penting untuk memverifikasi langsung batas kemampuan pengamatan hilal.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari riset jangka panjang yang dilakukan Observatorium Bosscha guna memperkaya data ilmiah terkait visibilitas hilal di Indonesia.

Berita Terkait

Perusahaan Energi Didukung Bill Gates Ajukan Lisensi Reaktor Fusi “Matahari Buatan” Infinity One
Toyota Innova Crysta 2026 Resmi Meluncur
Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor
Mitsubishi Pajero Cross-Country Siap Comeback 2026
Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar
Tata Tiago 2026 Meluncur, Hatchback Murah Seharga Rp87 Jutaan
Pemerintah Matangkan Implementasi B50 Lewat Uji Teknis di Berbagai Sektor Industri
YellowKey Ancam BitLocker Windows 11, Peneliti Klaim Bisa Bobol Enkripsi Tanpa Password

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:00 WIB

Perusahaan Energi Didukung Bill Gates Ajukan Lisensi Reaktor Fusi “Matahari Buatan” Infinity One

Jumat, 5 Juni 2026 - 15:00 WIB

Toyota Innova Crysta 2026 Resmi Meluncur

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:00 WIB

Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:00 WIB

Mitsubishi Pajero Cross-Country Siap Comeback 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 - 23:00 WIB

Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar

Berita Terbaru