Uni Eropa Blokir Pendanaan Teknologi Surya China, Khawatir Picu Gangguan Listrik Massal

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 10 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jambi, Pribhumi.com – Komisi Eropa mengambil langkah baru dengan menghentikan dukungan pendanaan Uni Eropa untuk sejumlah teknologi surya asal China. Kebijakan tersebut diambil karena muncul kekhawatiran bahwa perangkat energi hijau buatan China dapat menjadi celah ancaman terhadap sistem kelistrikan di Eropa.

Keputusan yang mulai diberlakukan sejak awal Mei itu menunjukkan meningkatnya kewaspadaan Brussels terhadap ketergantungan Eropa pada teknologi energi impor dari China, terutama untuk infrastruktur strategis.

Fokus utama pembatasan tersebut berada pada inverter surya, yakni perangkat yang berfungsi mengubah energi matahari menjadi listrik siap pakai. Inverter dianggap sebagai pusat kendali dalam sistem panel surya modern karena terhubung dengan jaringan internet dan dapat dikendalikan dari jarak jauh untuk pembaruan maupun pemeliharaan sistem.

Para pakar keamanan siber menilai kemampuan akses jarak jauh tersebut berpotensi disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Dalam kondisi ekstrem, gangguan terhadap inverter dapat memicu ketidakstabilan jaringan listrik hingga menyebabkan pemadaman dalam skala besar.

Sekretaris Jenderal European Solar Manufacturing Council, Christoph Podewils, mengatakan hampir seluruh produsen inverter memiliki fitur penghentian darurat atau emergency stop yang sebenarnya ditujukan untuk perlindungan sistem.

Baca Juga :  Resep Tom Yam Udang Asam Segar Cocok untuk Menu Buka Puasa

Namun menurutnya, jika fitur tersebut diretas atau dimanfaatkan oleh pihak asing, dampaknya bisa sangat serius terhadap jaringan energi Eropa.

Ahli keamanan siber Swantje Westphal juga memperingatkan bahwa ancaman terhadap sistem energi digital bukan lagi sekadar teori.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah laporan Reuters pada 2025 mengungkap otoritas energi Amerika Serikat menemukan perangkat komunikasi mencurigakan di sejumlah inverter buatan China.

Data dari lembaga riset Loom yang berbasis di Jenewa menunjukkan sekitar 61 persen inverter yang masuk ke pasar Eropa pada 2024 berasal dari China. Dua perusahaan besar, yakni Huawei dan Sungrow, disebut mendominasi pasar inverter global maupun Eropa.

Produsen China diketahui telah memasok perangkat untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas pembangkit listrik tenaga surya di Eropa. Para ahli memperingatkan bahwa pengendalian sebagian kecil kapasitas tersebut saja sudah cukup untuk menimbulkan gangguan serius pada jaringan listrik regional.

Selain inverter, Eropa juga masih sangat bergantung pada impor teknologi energi bersih dari China. Loom mencatat China memasok sekitar 98 persen panel surya dan 88 persen baterai lithium-ion yang digunakan di Eropa.

Baca Juga :  Pelunasan Haji 2026 Tahap Pertama Resmi Dibuka, Prioritas untuk Jamaah Lunas Tunda dan Lansia

Sebagai respons, Komisi Eropa mulai memperkuat kebijakan industri dan keamanan digital. Salah satunya melalui RUU Akselerator Industri yang bertujuan meningkatkan dukungan terhadap produksi teknologi hijau buatan Eropa, termasuk baterai dan kendaraan listrik.

Brussels juga tengah memperbarui aturan keamanan siber guna memperbesar kewenangan Uni Eropa dalam membatasi keterlibatan perusahaan China pada infrastruktur penting seperti energi dan komunikasi.

Melalui aturan terbaru, dana Uni Eropa yang dikelola langsung oleh Komisi Eropa maupun lembaga keuangan pembangunan Eropa tidak lagi dapat digunakan untuk membeli inverter surya produksi China.

Meski demikian, pembatasan tersebut belum berlaku untuk pembelian langsung oleh masing-masing negara anggota Uni Eropa. Inverter China yang sudah terpasang juga tetap diperbolehkan beroperasi.

Di sisi lain, industri manufaktur Eropa diyakini mampu meningkatkan produksi untuk menutup kebutuhan pasar jika ketergantungan terhadap produk China terus dikurangi.

Menurut pelaku industri, inverter buatan Eropa memang memiliki harga sedikit lebih mahal dibanding produk China. Namun biaya tambahan tersebut dianggap sebanding dengan peningkatan keamanan dan perlindungan jaringan listrik jangka panjang.

 

Berita Terkait

Perusahaan Energi Didukung Bill Gates Ajukan Lisensi Reaktor Fusi “Matahari Buatan” Infinity One
Toyota Innova Crysta 2026 Resmi Meluncur
Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor
Mitsubishi Pajero Cross-Country Siap Comeback 2026
Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar
Tata Tiago 2026 Meluncur, Hatchback Murah Seharga Rp87 Jutaan
Pemerintah Matangkan Implementasi B50 Lewat Uji Teknis di Berbagai Sektor Industri
YellowKey Ancam BitLocker Windows 11, Peneliti Klaim Bisa Bobol Enkripsi Tanpa Password

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:00 WIB

Perusahaan Energi Didukung Bill Gates Ajukan Lisensi Reaktor Fusi “Matahari Buatan” Infinity One

Jumat, 5 Juni 2026 - 15:00 WIB

Toyota Innova Crysta 2026 Resmi Meluncur

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:00 WIB

Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:00 WIB

Mitsubishi Pajero Cross-Country Siap Comeback 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 - 23:00 WIB

Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB