Jakarta, Pribhumi.com – Serangan drone yang dilancarkan Iran dinilai berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz selama berbulan-bulan. Namun para pakar menilai belum dapat dipastikan berapa lama Iran mampu mempertahankan tekanan tersebut dalam konflik yang terus meningkat.
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, Teheran merespons dengan menembakkan ratusan rudal serta lebih dari 1.000 drone ke berbagai negara Teluk yang menjadi sekutu Washington. Sebagian besar serangan berhasil dicegat sistem pertahanan udara, tetapi beberapa di antaranya tetap menimbulkan kerusakan pada bangunan, infrastruktur penting, serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Menurut laporan Centre for Information Resilience (CIR), Iran memiliki kemampuan memproduksi sekitar 10.000 unit drone setiap bulan. Sementara itu, jumlah pasti persediaan rudal Iran belum diketahui secara jelas. Militer Israel memperkirakan jumlahnya sekitar 2.500 unit, sedangkan beberapa analis lain menyebut bisa mencapai 6.000 unit.
Jumlah senjata yang masih dimiliki Iran diperkirakan menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah konflik di kawasan.
Salah satu target strategis Iran adalah Selat Hormuz, jalur laut sempit yang berada di antara Iran dan Oman. Selat ini merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global melewati wilayah tersebut.
Sejumlah serangan terhadap kapal di kawasan itu membuat aktivitas pengiriman energi sempat hampir terhenti dan memicu lonjakan harga energi dunia.
“Iran tidak akan menyerah dengan mudah atau cepat. Mereka memiliki kemampuan untuk membuat jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz menjadi tidak aman,” ujar Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, seperti dikutip dari Reuters.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat saat ini memprioritaskan serangan terhadap fasilitas militer Iran yang dinilai mengancam jalur pelayaran tersebut. Namun menurutnya, Iran hanya perlu menunjukkan kemampuan menyerang beberapa kapal tanker untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pelaku pelayaran.
“Begitu muncul kekhawatiran terhadap keselamatan kapal, banyak pihak kemungkinan tidak akan berani melewati jalur itu,” katanya.
Meski demikian, sejumlah analis menilai stok rudal Iran bisa menjadi titik lemah dalam konflik ini. Rusia diperkirakan tidak berada dalam posisi untuk memasok ulang senjata, sementara China diprediksi akan sangat berhati-hati untuk memberikan dukungan militer langsung karena berisiko merusak hubungan dengan negara-negara Teluk.
Negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) antara lain Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Persediaan rudal Iran juga diperkirakan berkurang karena sebelumnya Teheran memasok senjata kepada kelompok Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Selain itu, stok rudal mereka juga terkuras selama konflik selama 12 hari dengan Israel pada tahun lalu, meskipun sebagian telah berhasil dipulihkan.
Kendala lain yang dihadapi Iran adalah berkurangnya jumlah peluncur rudal. CIR menyebutkan bahwa jumlah peluncur rudal Iran kemungkinan telah berkurang hingga setengah akibat serangan militer Israel dan Amerika Serikat.
Meski demikian, Iran masih dinilai memiliki kemampuan besar dalam penggunaan drone. Drone Shahed-136 generasi terbaru memiliki jangkauan antara 700 hingga 1.000 kilometer, sehingga mampu menjangkau hampir seluruh wilayah pesisir selatan Teluk jika diluncurkan dari daratan Iran maupun kapal.
Sejumlah drone tersebut bahkan dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan udara negara-negara Teluk. Tercatat sekitar 65 drone sempat memasuki wilayah Uni Emirat Arab sejak konflik memanas.
Beberapa serangan tersebut dilaporkan menghantam sejumlah fasilitas penting, termasuk pusat data Amazon, Bandara Internasional Dubai, serta hotel Fairmont.
Jika persediaan rudal dan drone mulai menipis, Iran juga masih memiliki opsi lain, yakni menggunakan ranjau laut. Analisis Dyrad Global memperkirakan Iran memiliki sekitar 5.000 hingga 6.000 ranjau laut.
Ranjau tersebut dapat ditempatkan di dasar laut, diluncurkan menggunakan roket, maupun dibiarkan mengapung di perairan hingga meledak saat bersentuhan dengan lambung kapal.
Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa ranjau laut tersebut telah disebarkan di Selat Hormuz.
Direktur Control Risks, Cormac McCarry, mengatakan penyebaran ranjau laut dapat menyebabkan gangguan besar terhadap aktivitas pelayaran internasional.
“Jika ranjau laut disebar, proses pembersihannya bisa memakan waktu lama. Dalam situasi itu, dampak gangguan terhadap pelayaran dan perdagangan energi bisa berlangsung selama berbulan-bulan,” ujarnya.











