Jakarta, Pribhumi.com – Kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan menghadapi periode panas yang lebih ekstrem dari biasanya pada awal musim panas tahun ini. Prediksi tersebut disampaikan oleh Pusat Meteorologi ASEAN atau ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC).
Dalam laporan terbaru, ASMC memperkirakan suhu udara di kawasan Asia Tenggara akan berada di atas rata-rata selama periode Maret hingga Mei. Bahkan, peluang suhu berada di atas kondisi normal di Indonesia dan Malaysia diperkirakan mencapai 80 hingga 100 persen.
Kondisi panas yang tidak biasa ini diprediksi akan lebih dulu dirasakan di Indonesia dan Malaysia sebelum kemudian meluas ke sebagian besar wilayah daratan Asia Tenggara dalam dua bulan ke depan.
Media internasional melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Thailand serta Vietnam bagian utara juga diperkirakan akan mengalami suhu yang cukup tinggi. Sementara itu, beberapa wilayah seperti Vietnam tenggara, Kamboja, serta sebagian wilayah Filipina diperkirakan masih berada pada kisaran suhu mendekati normal.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa awal musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 berpotensi datang lebih cepat di sejumlah daerah.
Berdasarkan analisis BMKG, sekitar 325 Zona Musim atau sekitar 46,5 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih awal dari biasanya. Kemudian 173 Zona Musim atau 24,7 persen diperkirakan sesuai dengan pola normal, sedangkan 72 Zona Musim atau 10,3 persen berpotensi mengalami kemarau lebih lambat.
Wilayah yang diprediksi memasuki musim kemarau lebih cepat antara lain sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian Sulawesi, Maluku hingga beberapa wilayah Papua.
BMKG juga memproyeksikan bahwa puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, suhu panas diperkirakan paling terasa di wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Meski memasuki September, suhu tinggi masih berpotensi dirasakan di beberapa wilayah, terutama Sulawesi bagian utara dan timur serta sebagian wilayah Maluku.
Lebih lanjut, BMKG memperkirakan sifat musim kemarau tahun 2026 akan cenderung lebih kering dari kondisi normal. Sebanyak 451 Zona Musim atau sekitar 64,5 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih kering dari biasanya, sementara 245 Zona Musim atau 35,1 persen berada dalam kategori normal.
Hanya tiga Zona Musim atau sekitar 0,4 persen wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih basah dari kondisi normal, yakni di sebagian wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.
Selain itu, durasi musim kemarau pada sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dari berbagai sektor. Dalam sektor pertanian misalnya, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, hemat penggunaan air, dan memiliki masa panen yang lebih singkat.
Pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat, seperti melalui optimalisasi tampungan air serta perbaikan sistem distribusi air. Selain itu, pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara serta risiko kebakaran hutan dan lahan.











