JAKARTA, Pribhumi.com — Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan awal pekan. Pada Senin pagi (31/3), mata uang Garuda berada di posisi Rp16.995 per dolar Amerika Serikat (AS), naik 7 poin atau sekitar 0,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi. Yen Jepang dan baht Thailand masing-masing mengalami pelemahan, sementara yuan China dan peso Filipina mencatat penguatan. Di sisi lain, won Korea Selatan turut melemah cukup dalam.
Untuk mata uang regional lainnya, dolar Singapura mencatat penguatan tipis, sedangkan dolar Hong Kong sedikit terkoreksi pada pembukaan perdagangan pagi.
Sementara itu, mata uang utama negara maju secara umum bergerak di zona positif. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss kompak menguat terhadap dolar AS. Tren serupa juga terjadi pada dolar Australia dan dolar Kanada yang sama-sama mencatat kenaikan.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh pernyataan dovish dari pejabat bank sentral Amerika Serikat (The Fed), termasuk Ketua The Fed, Jerome Powell.
Namun demikian, ia menilai penguatan rupiah masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh sentimen pasar global yang cenderung negatif, serta kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Rupiah berpotensi menguat, tetapi ruang penguatannya terbatas karena tekanan eksternal masih cukup besar,” ujar Lukman.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS.











