Konflik Timur Tengah Tekan Harga Emas, Beralih ke Dolar Jadi Tren

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 26 Maret 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Pribhumi.com – Harga emas yang sebelumnya menunjukkan tren kenaikan signifikan kini justru mengalami penurunan tajam menjelang momen Idulfitri 2026. Padahal, logam mulia sempat diprediksi mampu menembus angka Rp 3,5 juta per gram saat Lebaran.

Dalam sepekan terakhir, harga emas tercatat turun drastis hingga Rp 103.000 per gram. Dari posisi tertingginya di angka Rp 2.996.000 per gram pada Rabu (18/3), harga emas merosot menjadi Rp 2.893.000 per gram pada Sabtu (21/3).

Penurunan ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian global yang berdampak langsung terhadap pergerakan harga emas.

Baca Juga :  DJP Hapus Sanksi Telat Lapor SPT 2025 hingga 30 April 2026

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa konflik yang berlangsung tanpa arah kepemimpinan yang jelas di Iran membuat situasi semakin sulit diprediksi. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Menurutnya, investor kini cenderung meninggalkan emas dan beralih ke dolar AS sebagai instrumen investasi yang lebih aman (safe haven). Pergeseran ini turut menekan harga emas di pasar global.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi penyebab lain melemahnya harga emas. Harga minyak jenis brent crude bahkan sempat menyentuh level US$ 112 per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan inflasi global.

Baca Juga :  Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar

Ketika inflasi meningkat, bank sentral di berbagai negara cenderung mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga. Kebijakan ini membuat instrumen investasi berbasis bunga seperti obligasi dan deposito menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Ibrahim menambahkan, dalam pertemuan terakhir, bank sentral global masih mempertahankan suku bunga. Namun, ada peluang besar kenaikan suku bunga dalam waktu dekat sebagai respons terhadap tekanan inflasi.

“Kenaikan suku bunga akibat inflasi tinggi memberikan dampak negatif terhadap harga emas, karena investor lebih memilih aset dengan imbal hasil yang lebih pasti,” ujarnya.

Berita Terkait

Bank Jambi Upayakan M-Banking Kembali Aktif, Gubernur Al Haris Minta Sistem Keamanan Diperkuat
Pemerintah Lanjutkan Kajian Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Penurunan Harga Minyak dan Penguatan Rupiah Jadi Pertimbangan
Pemerintah Pastikan Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Uji Coba Capai Hasil Positif
39 Pemda Terancam Kesulitan Bayar Gaji PPPK
Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP
Ekspor SDA Satu Pintu Resmi Berlaku, Pengusaha Ajukan Enam Masukan untuk Pemerintah
Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor
Prabowo: Indonesia Kaya SDA dan Sudah Swasembada Pangan, Saatnya Nilai Tambah Dinikmati Rakyat

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:00 WIB

Bank Jambi Upayakan M-Banking Kembali Aktif, Gubernur Al Haris Minta Sistem Keamanan Diperkuat

Kamis, 18 Juni 2026 - 03:00 WIB

Pemerintah Lanjutkan Kajian Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Penurunan Harga Minyak dan Penguatan Rupiah Jadi Pertimbangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 03:00 WIB

Pemerintah Pastikan Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Uji Coba Capai Hasil Positif

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:00 WIB

39 Pemda Terancam Kesulitan Bayar Gaji PPPK

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:02 WIB

Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB