Jakarta, Pribhumi.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan para ekonom agar tidak sembarangan menyampaikan prediksi negatif yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat, terutama terkait kondisi ekonomi Indonesia.
Ia menegaskan bahwa kritik tetap diperbolehkan, namun harus disertai dasar analisis yang jelas dan terukur. Pernyataan yang menyebut ekonomi Indonesia akan hancur dalam waktu dekat dinilai tidak berdasar.
Menurut Purbaya, sejumlah pandangan pesimistis hanya bertumpu pada kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah akibat konflik di Timur Tengah, tanpa mempertimbangkan langkah strategis pemerintah dalam meredam dampak tersebut.
Ia juga menilai asumsi bahwa harga minyak bisa menembus US$200 per barel hingga memicu resesi global merupakan spekulasi berlebihan. Jika skenario itu terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan Indonesia, melainkan seluruh negara di dunia.
Lebih lanjut, Purbaya menekankan bahwa analisis ekonomi seharusnya menggunakan data historis dan perhitungan yang jelas, bukan sekadar opini tanpa dasar. Ia bahkan menyindir pihak-pihak yang menyampaikan prediksi tanpa landasan kuat.
Terkait konflik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Purbaya optimistis kondisi tersebut tidak akan berujung pada resesi ekonomi global. Ia juga meyakini harga minyak dunia tidak akan melonjak setinggi yang dikhawatirkan.
Purbaya mencontohkan situasi di Amerika Serikat, di mana kenaikan harga energi sudah mulai menimbulkan tekanan domestik. Presiden Donald Trump disebut mulai mengambil langkah berbeda untuk menjaga stabilitas harga.
Ia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tetap fokus menjaga kondisi ekonomi dalam negeri agar tetap stabil di tengah tekanan global yang terjadi.











