Harga Plastik Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Impor Indonesia Masih Bergantung Luar Negeri

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 5 April 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Pribhumi.com — Harga plastik global mengalami kenaikan seiring terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini turut berdampak pada Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku plastik dari berbagai negara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2026 Indonesia mencatat impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun (kurs Rp 16.927). Nilai tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan domestik terhadap bahan baku plastik dari luar negeri.

Negara pemasok terbesar adalah China dengan nilai impor mencapai US$ 380,1 juta. Posisi berikutnya ditempati oleh Thailand sebesar US$ 82,7 juta dan Korea Selatan sebesar US$ 66,7 juta.

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok Diprediksi Naik Jelang Lebaran 2026, Pemprov Sumsel Siapkan Operasi Pasar Murah

Selain itu, Indonesia juga mengimpor plastik dari Amerika Serikat senilai US$ 29,9 juta dan Arab Saudi sebesar US$ 14,9 juta. Pasokan lainnya berasal dari Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Taiwan.

Plastik pada umumnya berasal dari hasil olahan minyak bumi, seperti polyethylene (PE) dan polypropylene yang menjadi bahan utama dalam berbagai produk. Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah otomatis mendorong naiknya biaya produksi sekaligus harga bahan baku plastik.

Kawasan Timur Tengah sendiri merupakan salah satu pemasok utama bahan baku plastik dunia. Data S&P Global Energy menunjukkan wilayah ini menyumbang sekitar 25% ekspor polyethylene dan polypropylene global. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut pun berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok.

Baca Juga :  Harga Emas Terpuruk, Sentimen Makro Kalahkan Geopolitik

Direktur Polyethylene di Independent Commodity Intelligence Services, Harrison Jacoby, menyebut sekitar 84% kapasitas ekspor polyethylene Timur Tengah bergantung pada jalur distribusi melalui Selat Hormuz. Gangguan di jalur tersebut berpotensi besar menghambat distribusi global bahan baku plastik.

Kondisi ini menjadi peringatan bagi Indonesia untuk memperkuat industri hulu petrokimia guna mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan ketahanan pasokan dalam negeri.

Berita Terkait

DJP Hapus Sanksi Telat Lapor SPT 2025 hingga 30 April 2026
HIPMI Kerinci Silaturahmi ke Jenderal Nazali Lempo, Bahas Penguatan Pengusaha Muda
Harga Minyak Dunia Melonjak, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terancam di Bawah 5 Persen
Tarif Travel Kerinci–Sungai Penuh Naik, Ini Penjelasan Dishub
OJK Cabut Izin Usaha BPR Koperindo Jaya, Bank Resmi Ditutup dan Masuk Proses Likuidasi
Kenaikan Tarif Travel Disepakati, Dishub Kerinci Masih Lakukan Pembahasan
Pemerintah Batasi Pembelian BBM Subsidi Mulai 1 April 2026, Harga Tetap
Pembatasan BBM Mulai 1 April 2026, Pembelian Pertalite dan Solar Dibatasi per Kendaraan

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 19:00 WIB

Harga Plastik Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Impor Indonesia Masih Bergantung Luar Negeri

Minggu, 5 April 2026 - 09:00 WIB

DJP Hapus Sanksi Telat Lapor SPT 2025 hingga 30 April 2026

Sabtu, 4 April 2026 - 23:31 WIB

HIPMI Kerinci Silaturahmi ke Jenderal Nazali Lempo, Bahas Penguatan Pengusaha Muda

Jumat, 3 April 2026 - 19:00 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terancam di Bawah 5 Persen

Jumat, 3 April 2026 - 18:39 WIB

Tarif Travel Kerinci–Sungai Penuh Naik, Ini Penjelasan Dishub

Berita Terbaru

Tips dan informasi

5 Sikap Penting untuk Mendewasakan Diri di Tengah Tantangan Hidup

Minggu, 5 Apr 2026 - 17:00 WIB