Jakarta, Pribhumi.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki kemampuan untuk menahan dampak lonjakan harga minyak dunia, termasuk jika harga menyentuh angka US$100 per barel.
Menurutnya, pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas melalui kebijakan subsidi energi. Ia menyebutkan, meskipun harga minyak global mengalami kenaikan signifikan dari kisaran rata-rata US$70 menjadi US$100 per barel, kondisi tersebut masih berada dalam batas yang dapat ditanggung oleh APBN.
“Negara akan tetap hadir dalam memberikan subsidi. Untuk besaran subsidi, tentu akan disesuaikan dengan perkembangan geopolitik global. Namun jika harga mencapai US$100 per barel, sejauh ini masih dalam koridor APBN dan masih bisa dikelola,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (17/3/2026).
Ia juga memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap dijaga agar tidak mengalami kenaikan, setidaknya hingga setelah periode Hari Raya. Sementara itu, harga BBM non-subsidi akan tetap mengikuti mekanisme pasar.
Pemerintah, lanjutnya, berupaya agar beban kenaikan harga energi tidak sepenuhnya ditanggung masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan subsidi akan terus dipertahankan sebagai bentuk perlindungan sosial.
Selain menjaga harga, pemerintah juga memberi perhatian besar terhadap ketersediaan pasokan energi nasional. Bahlil menegaskan bahwa stok BBM, termasuk LPG, bensin, dan solar, harus tetap aman agar tidak terjadi kelangkaan di berbagai daerah.
“Yang terpenting adalah memastikan pasokan tetap tersedia. Kita tidak ingin ada kelangkaan energi di Indonesia,” pungkasnya.











