Anak Jantan Kerinci: Filosofi Keberanian, Kepemimpinan, dan Amanah dalam Menjaga Marwah Ada

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safwandi, S.AP., DPT (Kepalo Sembah)

Sekjend Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK)

Pribhumi.com — Dalam tatanan adat Kerinci, istilah anak jantan bukan hanya bermakna seorang laki-laki, melainkan sebuah simbol nilai dan karakter manusia yang memiliki keberanian, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga kehormatan keluarga, kaum, dan masyarakat.

Konsep anak jantan dalam filosofi adat Kerinci menggambarkan sosok yang mampu berdiri di tengah persoalan, berani mengambil peran, serta sanggup memikul amanah yang dipercayakan kepadanya. Nilai ini tidak semata-mata berkaitan dengan kekuatan fisik, tetapi lebih kepada keteguhan sikap, kecerdasan dalam bertindak, dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Makna Anak Jantan dalam Pandangan Adat Kerinci

Dalam kehidupan masyarakat adat Kerinci, seorang anak jantan memiliki kedudukan sebagai sosok yang diharapkan mampu menjadi pelindung, pengayom, dan penyelesai masalah. Keberanian yang dimiliki bukanlah keberanian tanpa arah, melainkan keberanian yang dibimbing oleh akal sehat, adat, dan nilai kebenaran.

Filosofi anak jantan mengajarkan keseimbangan antara keberanian dan kebijaksanaan. Sebab keberanian tanpa pertimbangan dapat menimbulkan kerusakan, sementara kebijaksanaan tanpa keberanian dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab.

Karena itu, ukuran seorang anak jantan bukan dilihat dari seberapa kuat ia menghadapi lawan, tetapi seberapa mampu ia menghadapi persoalan dengan kepala dingin dan hati yang teguh.

Ayam Sabung sebagai Simbol Keberanian

Baca Juga :  Strategi Agar Pekerja Bangunan Lebih Efisien

Dalam ungkapan adat Kerinci, anak jantan sering diibaratkan seperti ayam sabung atau ayam jago.

“Nyaring kukuk, simbah iku, kapian ranggang, panjang jalu.”

Ungkapan tersebut bukan bermakna mengajarkan seseorang untuk mencari perselisihan, melainkan menggambarkan karakter yang berani tampil, memiliki keyakinan, dan tidak mudah mundur ketika menghadapi tantangan.

Ayam sabung menjadi perlambang keberanian dan kesiapan menghadapi keadaan. Begitu pula seorang anak jantan, ia dituntut mampu tampil ketika dibutuhkan, berdiri ketika terjadi persoalan, serta menjadi bagian dari solusi.

Sebagaimana seloka adat menyebutkan:

“Pandai mematut yang silang, memadukan yang renggang, menyusun yang rangkang, mengusaikan yang kusut, sarato menjernihkan yang keruh.”

Makna dari ungkapan tersebut menunjukkan bahwa keberanian sejati bukan hanya berani menghadapi masalah, tetapi juga mampu menyelesaikan perbedaan dengan kebijaksanaan.

Kepemimpinan yang Dibangun dari Amanah

Dalam nilai adat Kerinci, kepemimpinan bukan hanya tentang kedudukan, tetapi tentang kesediaan menanggung tanggung jawab. Seorang anak jantan sejati adalah sosok yang mampu menjadi tempat bertanya, tempat bersandar, dan tempat mencari jalan keluar ketika keluarga maupun masyarakat menghadapi persoalan.

Hal ini tergambar dalam filosofi:

“Bangka gedang tempat busilo, batang gedang tempat busanda, daun rimbun tempat buteduh diwaktu kepanasan.”

Ungkapan tersebut menggambarkan seorang pemimpin seperti pohon besar: memiliki akar yang kuat, batang yang kokoh, dan daun yang memberi perlindungan. Artinya, seorang pemimpin harus menghadirkan manfaat, rasa aman, serta menjadi tempat bergantung bagi orang di sekitarnya.

Baca Juga :  Bahaya Anak Makan Sambil Nonton: Kebiasaan Sepele yang Berdampak Besar bagi Tumbuh Kembang

Dalam adat Kerinci juga dikenal pemahaman:

“Jantan bukan karena tanduk, gagah bukan karena Dubalang; jantan karena berani menanggung, gagah karena mampu memimpin.”

Makna ini menegaskan bahwa kewibawaan tidak lahir dari kekuatan atau simbol kekuasaan, melainkan dari kemampuan menjaga amanah dan membuktikan tanggung jawab.

Anak Jantan dan Marwah Adat

Seorang anak jantan dalam pandangan adat Kerinci adalah manusia yang menjaga keseimbangan antara keberanian, kecerdasan, dan kesopanan. Ia tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu mendengar. Tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga memahami beban yang dipimpin.

Wibawa seorang anak jantan tidak dibangun melalui rasa takut, melainkan melalui kepercayaan. Kehadirannya memberi ketenangan karena masyarakat melihat keteguhan sikap, kebijaksanaan, dan kepeduliannya terhadap kepentingan bersama.

Nilai inilah yang menjadikan konsep anak jantan tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya Kerinci. Ia menjadi gambaran manusia ideal yang tidak mengejar kekuasaan, tetapi menjalankan pengabdian.

Pada akhirnya, filosofi anak jantan Kerinci mengajarkan bahwa keberanian harus berjalan bersama kebijaksanaan, dan kepemimpinan harus selalu berdiri di atas amanah. Sebab sejatinya, seorang anak jantan bukan hanya orang yang kuat menghadapi tantangan, tetapi orang yang mampu membawa keluarga, kaum, dan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Berita Terkait

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap
Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:55 WIB

“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”

Berita Terbaru

Tips dan informasi

Bukan Cuma Rumah Kotor, Ini 4 Faktor yang Mengundang Hama Masuk ke Hunian

Jumat, 30 Okt 2026 - 01:49 WIB