Gubernur Jambi Dorong Penyatuan Adat Kerinci-Sungai Penuh, LAM-SAK Perkuat Jati Diri Adat Lamo Pasko Usang

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com — Penguatan kelembagaan adat menjadi perhatian dalam upaya menjaga identitas budaya masyarakat Melayu Jambi, khususnya di wilayah Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Dalam momentum Peringatan Hari Adat Melayu yang digelar di Balai Adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi, muncul dorongan agar penyatuan kelembagaan adat Kerinci-Sungai Penuh segera diwujudkan melalui satu wadah bersama, yakni Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK).

Gubernur Jambi H. Al Haris menilai penyatuan kelembagaan adat bukan sekadar persoalan struktur organisasi, melainkan bagian dari upaya menghidupkan kembali hubungan sejarah, budaya, dan nilai adat yang telah lama menjadi identitas masyarakat Kerinci.

Menurutnya, Kerinci dan Sungai Penuh memiliki akar adat yang sama sehingga perlu diperkuat dalam satu kesatuan kelembagaan. Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Pemerintah Kota Sungai Penuh sebelumnya telah memiliki kesepahaman mengenai penyatuan tersebut, sehingga proses lanjutan perlu segera dilakukan.

“Mohon dipercepat prosesnya, termasuk perbaikan rumah empat jenis. Ini menjadi simbol bahwa Kerinci dan Sungai Penuh merupakan satu kesatuan adat,” ujar Gubernur Jambi.

Ia menegaskan bahwa adat memiliki peran strategis sebagai penjaga sejarah, karakter, dan nilai kehidupan masyarakat. Karena itu, lembaga adat membutuhkan dukungan agar mampu menjalankan fungsi pembinaan dan pelestarian budaya secara optimal.

Menurut Al Haris, para pemangku adat memiliki tanggung jawab besar dalam mempertahankan warisan leluhur, namun keberlangsungan kelembagaan adat juga memerlukan perhatian dari pemerintah.

LAM-SAK: Adat Kerinci Tidak Terpisahkan Dalam Satu Kesatuan

Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK), Safwandi, S.AP., DPT, mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi Jambi terhadap penguatan adat Kerinci.

Ia menjelaskan bahwa konsep adat lamo pasko usang merupakan warisan besar yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Kerinci sejak dahulu. Namun perkembangan zaman menyebabkan sebagian pemahaman terhadap struktur adat mulai mengalami pelemahan, terutama mengenai kedudukan para Depati sebagai pemegang pucuk SKO dalam tatanan adat.

Baca Juga :  KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT Pajak Jakarta Utara, Suap Pengurangan Nilai Pajak Capai Rp4 Miliar

Dalam sistem adat Kerinci, keberadaan Depati Empat, Delapan Helai Kain, Pemangku Adat yang Balimo, serta Suluh Bindang Alam Kerinci memiliki peran penting sebagai bagian dari struktur adat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Banyak sejarah dan kedaulatan kedepatian yang mulai terlupakan. Padahal para pemangku adat memiliki posisi penting dalam menjaga dan memutuskan perkara adat,” jelas Safwandi.

Ia menegaskan bahwa falsafah adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah di Bumi Sakti Alam Kerinci bukan hanya ungkapan simbolis, tetapi memiliki wujud nyata dalam sistem adat.

Adat itu nyata melalui keberadaan Depati Empat, Selapan Helai Kain, serta Pemangku Adat yang Balimo. Sementara syarak tercermin melalui Suluh Bindang Alam Kerinci sebagai pedoman kehidupan masyarakat.

Sejak berdirinya LAM-SAK pada tahun 2022, posisi para Depati kembali diperkuat melalui Majelis Permusyawaratan Adat (MPA). Sementara lembaga adat berfungsi sebagai perangkat administrasi dan pelayanan yang mendukung jalannya kelembagaan adat.

Safwandi menjelaskan hubungan tersebut seperti antara unsur pengarah dan perangkat pelaksana. Pemangku adat memiliki kewenangan adat, sedangkan lembaga adat menjalankan fungsi administratif.

“Pemangku adat duduk dalam lembago, sedangkan pengurus harian berada dalam lembaga. Keduanya memiliki fungsi berbeda dan harus dipahami secara jelas,” katanya.

Ia menegaskan bahwa perbedaan wilayah administrasi antara Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh tidak pernah memisahkan kesatuan adat.

“Adat Kerinci tetap satu, kadateh sapucuk, kabawah saurat tunggal,” ungkapnya.

Enam Agenda Penguatan Adat Kerinci-Sungai Penuh

Baca Juga :  Obsidian Kerap Disangka “Gigi Petir”, Antara Mitos Lokal dan Fakta Ilmiah

Dalam upaya memperkuat kelembagaan adat, LAM-SAK menyampaikan sejumlah langkah strategis yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah. Yang hal ini telah disampaikan langsung oleh Sekjend LAM-SAK, Safwandi., Dpt. Kepada Gubernur Jambi, H. Al Haris, selaku Pembina LAM Provinsi Jambi.

Pertama, LAM-SAK berharap adanya dukungan anggaran kelembagaan. Sejak berdiri pada 2022, lembaga tersebut belum mendapatkan dukungan pembiayaan rutin dari pemerintah daerah sehingga kegiatan adat masih bergantung pada bantuan tertentu.

Kedua, diperlukan penguatan fasilitas sekretariat, termasuk sarana administrasi dan kendaraan operasional agar pelayanan kelembagaan adat dapat berjalan lebih efektif.

Ketiga, LAM-SAK mendorong penyelesaian rehabilitasi Gedung Empat Jenis sebagai sekretariat bersama Lembaga Adat Melayu Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh agar menjadi pusat aktivitas adat.

Keempat, LAM-SAK mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) mengenai pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai adat yang hidup di tengah masyarakat.

Kelima, LAM-SAK akan terus melakukan konsolidasi bersama para pemangku adat jati atau Pucuk SKO yang tergabung dalam Majelis Permusyawaratan Adat (MPA) untuk menjaga persatuan dan marwah adat Kerinci.

Keenam, apabila kelembagaan adat Kerinci dan Sungai Penuh semakin kokoh, terbuka peluang memperluas hubungan adat dengan wilayah Kerinci Rendah dan Kerinci Tinggi yang secara administratif kini berada di wilayah Kabupaten Merangin.

Safwandi menegaskan bahwa penguatan kelembagaan adat bukan hanya kebutuhan saat ini, tetapi merupakan investasi budaya untuk memastikan warisan leluhur tetap menjadi pedoman bagi generasi mendatang.

“Yang terpenting adalah memastikan seluruh unsur adat memiliki ruang yang jelas dalam kelembagaan dan tetap menjaga nilai adat lamo pasko usang,” ujarnya.

Berita Terkait

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi
Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi
Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik
Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung
“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”
Silaf dan Asik dalam Adat Kerinci: Jangan Menilai Tradisi Hanya dari Apa yang Tampak
PERJALANAN LELUHUR KALBU IJUNG SKU LAMAT Menghubungkan Jalur Kekerabatan Semurup – Semerap
Melayu Bukan Sekadar Etnis, Melainkan Ruang Kebudayaan yang Mempertemukan Beragam Identitas

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Budayawan Kerinci M. Ali Surahman Tutup Usia, Dunia Sejarah dan Adat Kehilangan Sosok Berdedikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:05 WIB

Sekjend Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Soroti Dugaan PETI Sungai Penetai, Kapolres Pastikan Personel Turun ke Lokasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:22 WIB

Merawat Marwah yang Tergadai: Mengembalikan Ruh Adat Kerinci di Tengah Pusaran Seremoni dan Kepentingan Politik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Bahas Sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi, Pemangku Adat Sungai Penuh Sambangi Sanggaran Agung

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:55 WIB

“Jangan Salah Tafsir! Di Balik Simbol Rumah Gedang Ada Petuah, Hikmah dan Amanah Sko”

Berita Terbaru