Tari Asyik Kerinci: Jejak Tauhid dalam Gerak Melingkar Ritual Leluhur

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 22 November 2025 - 02:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warisan Sakral yang Menyiratkan Pesan Tauhid

Kerinci, Pribhumi.com Tari Asyik atau Tarei Asyeik dikenal sebagai salah satu tradisi ritual paling tua di Kerinci. Tarian yang dibawakan dengan penuh kekhusyukan ini tidak hanya dipandang sebagai pusaka budaya, tetapi juga sebagai medium spiritual yang memuat ajaran ketauhidan sejak masa nenek moyang.

Dalam sebuah diskusi di Grup WhatsApp Majelis Peduli Adat Sakti Alam Kerinci (PASAK), budayawan Kerinci Bopi Casia Putra menjelaskan asal kata “guru” yang sering disebut para balian salih saat memimpin ritual. Kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta: Gu berarti kegelapan, sementara Ru berarti cahaya.
“Makna itu menggambarkan perjalanan manusia dari gelap menuju terang. Bukankah Rasulullah juga diutus untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya?” ujar Bopi.

Bopi Casia Putra (Budayawan Kerinci)

Gerak Melingkar sebagai Cerminan Hukum Semesta

Tari Asyik memiliki pola khas: gerakan melingkar dari kiri ke kanan. Menurut Bopi, arah putaran ini bukan sekadar estetika tradisi, namun merepresentasikan hukum alam dan pola energi yang sama ditemukan di banyak fenomena semesta—mulai dari tawaf di Ka’bah, orbit planet, putaran elektron, hingga alur sulur tanaman yang cenderung melingkar ke kanan.

Baca Juga :  Dua Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Iran Terapkan Protokol Ketat

“Jika kita amati, ukiran-ukiran Kerinci juga menggunakan pola gerak kiri ke kanan. Alam selalu mengajar manusia melalui tanda-tanda,” tuturnya, sembari mengutip pepatah leluhur: Alam terkembang jadi guru.

Ukiran pada salahsatu masjid tua di Kerinci

Sejarawan Kerinci, M. Ali Surakhman, sebelumnya juga pernah menyinggung bahwa simbol batu silendrik di Muak—yang berpola spiral—mewakili pandangan leluhur Kerinci tentang alam semesta yang bertumpu pada nilai ketuhanan.

Batu silendrik di Muak (berbentuk spiral)

Jejak Tasawuf dalam Tradisi Asyik

Seniman dan budayawan Kerinci, Indra Gunawan (Rio Mulyo), menambahkan bahwa beberapa unsur dalam tradisi Asyik memiliki kedekatan dengan konsep tasawuf seperti Martabat Tujuh dan sifat maani tujuh. Ia mencontohkan tradisi lokal seperti sangkak ngan tujuh dan bungo ngan tujuh yang masih dipraktikkan para salik hingga kini.

Sangkak dalam sebuah tradisi Kerinci

Menurutnya, hal tersebut memperlihatkan bahwa leluhur Kerinci telah lama menyimpan pengetahuan spiritual yang terstruktur dan kaya, tersirat melalui simbol-simbol budaya.

Indra Gunawan (Rio Mulyo)

Matisuri: “Matikan Diri Sebelum Mati”

Pemerhati Adat Sakti Alam Kerinci, Hendi Wisnu Pamungkas, menyoroti konsep matisuri yang terdapat dalam praktik Tari Asyik. Ia menyebut matisuri sebagai proses penundukan ego yang sejalan dengan ajaran tasawuf mengenai mematikan diri sebelum mati.

Baca Juga :  IHSG Terperosok Tajam, Pemerintah Nilai Pasar Masih Diliputi Ketidakpastian

“Matisuri adalah kematian maknawi. Ia menuntun manusia meredam ambisi duniawi, mengosongkan diri, dan kembali pada kesadaran bahwa segala sesuatu berpulang kepada Tuhan,” ungkap Hendi.

Hendi Wisnu Pamungkas (Pemerhati Adat Kerinci)

Asyik sebagai Jalan Mencari Pencerahan

Pada akhirnya, kata Bopi, tujuan ritual Asyik tidak lepas dari pencarian pencerahan. Gerak dalam Tari Asyik dipandang sebagai perjalanan menuju ruang batin yang dalam, yang oleh tradisi disebut alam malakut.

“Asyik adalah rute batin. Para pelakunya mencari cahaya, kebenaran, dan pemahaman tentang keberadaan,” ujarnya.

Tradisi yang Menyatukan Budaya, Alam, dan Ketuhanan

Dengan segala simbol dan nilai yang dibawanya, Tari Asyik Kerinci bukan sekadar warisan budaya, tetapi sekaligus jendela menuju pemahaman leluhur tentang hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan antara gerak tubuh dan gerak semesta, antara spiritualitas dan kebudayaan.

Berita Terkait

HIPMI Kerinci Bagikan Ribuan Masker untuk Lindungi Warga dari Kabut Asap
HBA Tutup Mubes I Debalang Negeri, Tekankan Penguatan Adat dan Marwah Negeri Jambi
Debalang Sungai Penuh dan Kerinci Hadiri Mubes Perdana, Perkuat Komitmen Jaga Marwah Adat
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
Waka Polres Kerinci Cek SPBU Kumun, Pengawasan BBM Bersubsidi Diperketat
Jaga Adat Lamo Pusako Usang, Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Musyawarah dan Amanah Adat
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Struktur Paramenti Tigo Luhah Semurup Berpedoman pada ico Pakai

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 18:42 WIB

HIPMI Kerinci Bagikan Ribuan Masker untuk Lindungi Warga dari Kabut Asap

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:03 WIB

HBA Tutup Mubes I Debalang Negeri, Tekankan Penguatan Adat dan Marwah Negeri Jambi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Debalang Sungai Penuh dan Kerinci Hadiri Mubes Perdana, Perkuat Komitmen Jaga Marwah Adat

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:24 WIB

H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:04 WIB

Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota

Berita Terbaru