LONDON, Pribhumi.com — Pemerintah Amerika Serikat mengungkap pertimbangan strategis di balik penunjukan Pakistan sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan dengan Iran. Keputusan ini diambil meskipun sejumlah negara lain, termasuk Turki, juga menawarkan diri sebagai fasilitator dialog.
Sumber dari Gedung Putih kepada Financial Times menyebutkan bahwa Pakistan dinilai memiliki posisi yang lebih netral serta peluang lebih besar diterima oleh Teheran dalam proses negosiasi. Selain itu, Islamabad diketahui memiliki hubungan yang cukup baik dengan pemerintahan Donald Trump.
Faktor geografis juga menjadi alasan penting. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Iran, Pakistan dianggap lebih memahami dinamika kawasan serta memiliki jalur komunikasi yang lebih efektif dibandingkan negara lain seperti Turki.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diplomasi tertutup yang dijalankan Washington untuk mendorong tercapainya gencatan senjata. Di balik retorika keras di ruang publik, pemerintahan Trump disebut telah melakukan berbagai upaya intensif secara diam-diam dalam beberapa pekan terakhir.
Laporan Financial Times menyebutkan bahwa inisiatif gencatan senjata selama dua pekan sebagian besar diprakarsai oleh Amerika Serikat. Bahkan, Trump dikabarkan telah menginginkan penghentian konflik sejak 21 Maret, meskipun secara terbuka tetap menyampaikan tekanan keras terhadap Iran.
Dorongan untuk meredakan konflik ini juga dipicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia, khususnya akibat potensi gangguan di Selat Hormuz. Selain itu, pejabat AS mengaku terkejut dengan ketahanan Iran menghadapi tekanan militer dari AS dan sekutunya.
Pengumuman gencatan senjata disampaikan langsung oleh Trump pada Rabu malam (7/4/2026), hanya satu jam sebelum batas waktu rencana serangan terhadap infrastruktur penting Iran berakhir. Situasi ini sempat memunculkan spekulasi bahwa langkah tersebut hanya bersifat penundaan, bukan penghentian permanen.
Dalam kesepakatan sementara itu, Iran diminta membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas penghentian serangan selama dua pekan. Namun, laporan ini berbeda dengan pernyataan publik Trump dan pejabat AS yang sebelumnya mengklaim Iran meminta gencatan senjata dan menyebutnya sebagai kemenangan tanpa syarat.











