Derita Gaza Kian Dalam, Warga Palestina Tiga Tahun Gagal Haji dan Tak Bisa Berkurban

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com – Penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza terus berlanjut. Selama tiga tahun berturut-turut, masyarakat Gaza tidak dapat menjalankan ibadah haji maupun merayakan Idul Adha secara layak akibat perang dan pembatasan ketat yang diberlakukan Israel.

Sebelum konflik besar pecah pada Oktober 2023, ribuan warga Gaza rutin berangkat ke Tanah Suci setiap tahunnya. Kuota haji untuk Gaza mencapai sekitar 2.500 orang per tahun, dengan banyak calon jemaah harus menunggu bertahun-tahun demi mendapatkan kesempatan beribadah ke Makkah.

Namun situasi berubah drastis setelah penutupan berbagai jalur perbatasan. Penyeberangan keluar masuk Gaza dibatasi secara ketat sehingga keberangkatan jemaah haji praktis terhenti selama tiga musim haji terakhir.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina di Gaza menyebut lebih dari 10 ribu warga kehilangan kesempatan berhaji sejak agresi Israel dimulai. Sejumlah calon jemaah bahkan dilaporkan meninggal dunia sebelum sempat mewujudkan impian mereka berangkat ke Tanah Suci.

Meski penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir sempat dibuka terbatas awal tahun ini, akses tersebut mayoritas hanya diperuntukkan bagi evakuasi medis dan kasus kemanusiaan tertentu yang mendapat persetujuan Israel.

Kondisi tersebut memunculkan tekanan emosional dan spiritual mendalam bagi masyarakat Gaza. Banyak warga mengaku sudah mempersiapkan perjalanan ibadah mereka jauh sebelum perang menghancurkan wilayah tersebut.

Baca Juga :  Garda Revolusi Iran Ancam Bunuh PM Israel Benjamin Netanyahu di Tengah Eskalasi Perang

“Kami seharusnya berada di sana pada hari-hari suci ini,” ujar Najia Abu Lehia, seorang warga Gaza berusia 64 tahun, mengenang rencana hajinya yang gagal akibat perang.

Sebuah penelitian yang dirilis Pusat Studi Politik Palestina (PCPS) pada Mei 2026 menyebut kehancuran sektor haji dan umrah di Gaza sebagai bentuk “genosida ekonomi struktural”. Penelitian itu ditulis oleh peneliti Khaled Abu Amer.

Dalam laporan tersebut diungkapkan seluruh 78 perusahaan perjalanan haji dan umrah di Gaza mengalami keruntuhan total akibat perang. Banyak kantor agen perjalanan rusak hingga hancur diterjang serangan.

Kerugian sektor tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta dolar AS, belum termasuk dana beku senilai 2 hingga 3 juta dolar AS yang tertahan di maskapai penerbangan maupun hotel di Arab Saudi dan Mesir.

Sebelum perang berlangsung, sektor perjalanan religi itu mampu menyumbang sedikitnya 12 juta dolar AS setiap tahun bagi ekonomi Gaza. Kehancuran sektor tersebut turut memukul ribuan pekerja yang bergantung pada industri haji dan umrah.

Direktur Jenderal Haji dan Umrah Kementerian Wakaf Gaza, Rami Abu Staitah, mengatakan pihaknya tidak dapat menyelenggarakan musim haji karena tidak ada kepastian pembukaan perbatasan.

Menurutnya, proses penyelenggaraan haji membutuhkan kontrak dan persiapan panjang terkait transportasi serta akomodasi yang mustahil dilakukan di tengah situasi perang.

Baca Juga :  THR Aparatur Negara Mulai Disalurkan, Anggaran Tembus Rp 55 Triliun

Pemerintah Gaza juga meminta komunitas internasional, termasuk Arab Saudi dan Mesir, untuk membantu memisahkan urusan ibadah haji dari kepentingan politik dan konflik bersenjata.

Tak hanya ibadah haji, pelaksanaan kurban Idul Adha di Gaza juga kembali gagal digelar tahun ini. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut warga Gaza tidak dapat melakukan penyembelihan hewan kurban.

Otoritas setempat menyebut kehancuran sektor peternakan dan larangan masuknya hewan hidup ke Jalur Gaza menjadi penyebab utama lumpuhnya tradisi kurban.

Lembaga kemanusiaan internasional memperingatkan kondisi warga Gaza semakin memburuk. Sebagian besar penduduk kini hidup mengungsi di kamp-kamp darurat dan menggantungkan hidup dari bantuan kemanusiaan yang terbatas.

Data Kamar Dagang dan Industri Gaza menunjukkan lebih dari 90 persen sektor peternakan mengalami kerusakan atau hancur akibat serangan dan pembatasan distribusi barang.

Selain menghancurkan produksi ternak lokal, pembatasan terhadap masuknya hewan hidup ke Gaza turut memperparah krisis pangan dan ekonomi masyarakat.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sebelumnya melaporkan sekitar 80 persen populasi domba dan 70 persen kambing di Gaza mati atau terbunuh selama perang berlangsung.

Hingga kini, sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza masih hidup di tengah pengungsian, bangunan rusak, serta krisis kemanusiaan berkepanjangan akibat konflik yang belum juga berakhir.

 

Editor : Safwandi., Dpt

Berita Terkait

Gelombang Panas Ekstrem Hantam Prancis, 40 Orang Tewas Tenggelam Saat Warga Cari Kesejukan
Pemerintah Pastikan Perlindungan TKW YY Korban Penganiayaan di Malaysia Meski Berangkat Lewat Jalur Nonprosedural
Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah
Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen
Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran
Sanksi Chip AS Berbalik Arah, Huawei Siapkan Teknologi Setara 1,4 Nanometer
Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh Berjam-jam, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang di Perbatasan
PBB Peringatkan Dunia Hadapi Rekor Suhu Panas Baru hingga 2030, El Nino Diprediksi Menguat

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:00 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Hantam Prancis, 40 Orang Tewas Tenggelam Saat Warga Cari Kesejukan

Selasa, 16 Juni 2026 - 07:41 WIB

Pemerintah Pastikan Perlindungan TKW YY Korban Penganiayaan di Malaysia Meski Berangkat Lewat Jalur Nonprosedural

Senin, 8 Juni 2026 - 01:00 WIB

Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:00 WIB

Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB