Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ancaman Inflasi dan PHK Massal Mengintai

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Pribhumi.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih akan mengalami tekanan dalam beberapa hari ke depan. Bahkan sejumlah analis menilai kurs dolar AS berpotensi menembus angka Rp18.000 dalam waktu dekat.

Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut level Rp18.000 per dolar AS kini sudah berada “di depan mata”. Menurutnya, jika batas psikologis tersebut terlewati, pelemahan rupiah bisa berlanjut hingga kisaran Rp18.200.

Ia menjelaskan, penguatan dolar AS tidak lagi mampu diimbangi oleh penguatan rupiah. Akibatnya, masyarakat dan pelaku pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap mata uang domestik dan memilih memindahkan aset ke valuta asing demi menjaga nilai tabungan mereka.

Selain berdampak secara psikologis terhadap investor dan pasar keuangan, pelemahan rupiah juga diperkirakan memicu kenaikan harga berbagai komoditas, terutama barang impor dan produk yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.

Ibrahim mencontohkan komoditas kedelai yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, harga kedelai otomatis naik dan berdampak pada mahalnya produk olahan seperti tahu dan tempe.

Baca Juga :  Dugaan Penggelembungan Anggaran PJU Kerinci, Nama Edminuddin Mengemuka di Persidangan

Menurutnya, kondisi tersebut akan memicu kenaikan harga barang secara signifikan dan semakin membebani masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira. Ia menilai pelemahan rupiah berpotensi mempercepat inflasi impor dan menaikkan biaya produksi industri nasional.

Bhima mengatakan, kenaikan biaya impor bukan hanya berasal dari harga barang, tetapi juga ongkos logistik dan transportasi. Dampaknya, biaya produksi dalam negeri meningkat dan akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.

Ia menilai selama ini pelaku usaha masih menahan kenaikan harga demi menjaga daya beli masyarakat. Namun jika rupiah terus melemah drastis, perusahaan tidak lagi memiliki ruang untuk mempertahankan harga lama.

Menurut Bhima, percepatan penyesuaian harga barang akan membuat tekanan ekonomi semakin terasa di tingkat rumah tangga. Inflasi impor diperkirakan makin tinggi dan paling berat dirasakan kelompok menengah ke bawah.

Baca Juga :  Lonjakan Impor Indonesia Awal 2026 Capai US$ 21,20 Miliar

Tak hanya itu, kondisi rupiah yang terus tertekan juga dinilai dapat memicu gelombang efisiensi perusahaan, terutama sektor padat karya yang bergantung pada bahan baku impor. Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) pun disebut semakin terbuka.

Di sisi lain, masyarakat kelas menengah atas diperkirakan mulai beralih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS sebagai langkah antisipasi. Fenomena ini dinilai bisa mempercepat pelemahan rupiah karena meningkatnya permintaan terhadap mata uang Amerika Serikat.

Bhima memperingatkan, kelompok masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan menghadapi situasi tersebut. Selain harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, mereka juga terancam kehilangan pekerjaan dan mengalami penurunan daya beli.

Ia menambahkan, jika dolar AS benar-benar menembus Rp18.000, angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia berpotensi kembali meningkat, sementara pekerja sektor informal akan semakin tertekan oleh kondisi ekonomi yang memburuk.

 

Editor : Safwandi., Dpt

Berita Terkait

Bank Jambi Upayakan M-Banking Kembali Aktif, Gubernur Al Haris Minta Sistem Keamanan Diperkuat
Pemerintah Lanjutkan Kajian Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Penurunan Harga Minyak dan Penguatan Rupiah Jadi Pertimbangan
Pemerintah Pastikan Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Uji Coba Capai Hasil Positif
39 Pemda Terancam Kesulitan Bayar Gaji PPPK
Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP
Ekspor SDA Satu Pintu Resmi Berlaku, Pengusaha Ajukan Enam Masukan untuk Pemerintah
Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor
Prabowo: Indonesia Kaya SDA dan Sudah Swasembada Pangan, Saatnya Nilai Tambah Dinikmati Rakyat

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:00 WIB

Bank Jambi Upayakan M-Banking Kembali Aktif, Gubernur Al Haris Minta Sistem Keamanan Diperkuat

Kamis, 18 Juni 2026 - 03:00 WIB

Pemerintah Lanjutkan Kajian Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Penurunan Harga Minyak dan Penguatan Rupiah Jadi Pertimbangan

Rabu, 17 Juni 2026 - 03:00 WIB

Pemerintah Pastikan Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Uji Coba Capai Hasil Positif

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:00 WIB

39 Pemda Terancam Kesulitan Bayar Gaji PPPK

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:02 WIB

Pramono Anung Umumkan Ribuan Lowongan Kerja Padat Karya Bergaji UMP

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB