Teheran, Pribhumi.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel berada di balik gelombang kerusuhan yang melanda negaranya dalam beberapa pekan terakhir. Ia menilai kedua negara tersebut berupaya menciptakan instabilitas setelah gagal menundukkan Iran melalui konflik bersenjata pada Juni tahun lalu.
Dalam pernyataannya kepada televisi nasional Iran pada Senin (12/1/2026), Pezeshkian menyebut musuh-musuh Iran kini menggunakan strategi baru untuk melemahkan negara dengan memicu kekacauan dari dalam negeri.
Aksi protes yang awalnya muncul akibat tekanan ekonomi sejak bulan lalu, menurut Pezeshkian, telah berubah menjadi kekerasan terorganisasi. Ia mengecam serangan terhadap fasilitas umum, termasuk masjid, pasar, dan ruang publik di Teheran serta kota-kota lain.
Presiden Iran menuding AS dan Israel melatih kelompok tertentu baik di dalam maupun luar negeri, serta menyusupkan individu bersenjata yang disebutnya sebagai teroris asing untuk memperkeruh situasi.
“Mereka bukan demonstran. Mereka adalah perusuh terlatih yang melakukan pembunuhan, pembakaran, dan tindakan keji lainnya,” ujar Pezeshkian dalam wawancara yang dikutip media pemerintah Iran.
Ia menegaskan pemerintah tetap membuka ruang dialog bagi masyarakat yang menyampaikan aspirasi secara damai. Namun, menurutnya, tindakan kekerasan yang terjadi tidak mencerminkan karakter rakyat Iran.
Lebih lanjut, Pezeshkian kembali menegaskan keyakinannya bahwa upaya destabilitasi ini merupakan kelanjutan dari kegagalan AS dan Israel dalam perang singkat selama 12 hari pada Juni tahun lalu.
Dalam pesannya kepada generasi muda, Pezeshkian meminta agar masyarakat tidak terpengaruh oleh provokasi dan tidak terlibat dalam aksi kekerasan yang merugikan stabilitas nasional.
“Menjawab keresahan rakyat adalah kewajiban kami. Namun menjaga ketertiban dan keselamatan seluruh masyarakat adalah tanggung jawab yang lebih besar,” tegasnya.











