JAMBI, Pribhumi.com – Produser Indonesia-Australia Intan Kieflie membawa sejumlah proyek film horor Indonesia ke ajang pasar film internasional Marché du Film de Cannes 2026 melalui perusahaan Kraken Entertainment dan Anak Negeri Films. Salah satu proyek utama yang diperkenalkan adalah film horor berjudul Ibu: Mother of the Lost yang saat ini masih berada dalam tahap pra-produksi.
Film tersebut dikembangkan sebagai proyek horor dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris. Sejumlah nama besar turut terlibat dalam film ini, seperti Yayan Ruhian, Christine Hakim, dan Alexander Wraith. Selain menjadi produser, Intan Kieflie juga masuk dalam jajaran pemain film tersebut.
Intan diketahui telah memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di industri perfilman Indonesia dan Australia. Ia aktif bekerja di Jakarta dan Melbourne dalam berbagai proyek film internasional.
Dalam presentasinya di ajang Marché du Film de Cannes, Intan memperkenalkan tiga proyek utama, yakni film horor supernatural Sukma garapan Baim Wong, film ritual mistis Ritual Gaib: Nyai Randasura, serta Ibu: Mother of the Lost.
“Ini bukan hanya tentang menjual satu film,” kata Intan Kieflie.
Menurutnya, kehadiran proyek-proyek tersebut di Cannes bertujuan membuka jalur distribusi internasional bagi film Indonesia, khususnya genre horor yang dinilai memiliki potensi besar di pasar global.
“Produser Indonesia memiliki cerita yang kuat, tetapi pasar internasional perlu memahami bagaimana membacanya, bagaimana memposisikannya, dan ke mana film-film itu dapat ditayangkan,” ujarnya.
Salah satu proyek yang menarik perhatian adalah Ritual Gaib: Nyai Randasura yang menjadi bagian dari semesta horor bertajuk The Black Ritual Universe. Proyek tersebut dikembangkan sebagai intellectual property (IP) lintas platform yang mencakup film, buku, video podcast, hingga dokumenter.
Sementara itu, Ibu: Mother of the Lost mengangkat kisah seorang ibu bernama Dewi yang dilanda duka mendalam. Ia memilih mengasingkan diri ke sebuah rumah tua di tepi danau yang kemudian dijadikan panti asuhan. Namun, kehidupannya berubah setelah bertemu dua anak misterius yang ternyata telah meninggal dunia dan terus memanggil namanya.
Film ini dipersiapkan untuk kerja sama produksi internasional, investasi, pencarian mitra strategis, hingga proses pra-penjualan di pasar global.
“Dengan ‘Ibu’, kami membangun film horor yang bukan hanya menakutkan,” kata Intan.
“Film ini terlebih dahulu menghancurkan hati penonton, lalu membiarkan rasa takut tumbuh dari luka tersebut.”
Melalui langkah tersebut, Intan Kieflie menargetkan pasar Amerika Utara, Eropa, Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Amerika Latin guna memperkuat distribusi langsung film genre Indonesia ke kancah internasional.
Editor : Safwandi., Dpt






