Jambi, Pribhumi.com – Wabah penyakit yang diduga disebabkan oleh virus Hanta mengguncang pelayaran kapal pesiar mewah MV Hondius. Sedikitnya tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia, sementara satu warga negara Inggris masih menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis.
Kapal yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions tersebut saat ini berada di perairan lepas Tanjung Verde dengan total sekitar 149 orang di atasnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan terus memantau perkembangan situasi yang dikategorikan sebagai kondisi medis serius.
Berdasarkan laporan WHO, kasus pertama terdeteksi pada awal Mei 2026 setelah sejumlah penumpang menunjukkan gejala gangguan pernapasan berat. Hingga 4 Mei, tercatat tujuh kasus, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi melalui uji laboratorium dan lima kasus suspek, termasuk tiga korban meninggal dunia.
Gejala yang dialami pasien bervariasi, mulai dari demam, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan. Dalam beberapa kasus, kondisi berkembang cepat menjadi pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, bahkan syok.
WHO menyebutkan penanganan dilakukan melalui koordinasi internasional, meliputi isolasi pasien, evakuasi medis, serta investigasi mendalam untuk memastikan sumber penularan.
Virus Hanta sendiri umumnya menular melalui paparan urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Meski tergolong jarang, infeksi ini dapat berakibat fatal. Dalam kasus tertentu, seperti varian virus Andes, penularan antarmanusia juga dimungkinkan.
Salah satu pasien yang meninggal diketahui mengalami gejala sejak awal April sebelum kondisinya memburuk dengan cepat. Sementara pasien lain yang merupakan kontak erat juga meninggal setelah menunjukkan gejala serupa. Adapun satu pasien lainnya kini dirawat intensif setelah dinyatakan positif melalui tes PCR.
Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Aaron Motsoaledi, menyampaikan bahwa pasien kritis saat ini mendapatkan perawatan suportif karena belum ada terapi spesifik untuk hantavirus. Ia juga menegaskan bahwa pelacakan kontak terus dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Sementara itu, seluruh penumpang kapal diinstruksikan untuk tetap berada di kabin masing-masing sebagai langkah pencegahan. Kebijakan ini diambil meskipun penularan antar manusia tergolong sangat jarang.
Situasi di atas kapal memicu tekanan psikologis bagi para penumpang. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, salah satu penumpang mengungkapkan kecemasan dan ketidakpastian yang mereka rasakan selama berada di tengah laut tanpa kejelasan kapan dapat kembali ke daratan.
Di sisi lain, tim medis internasional masih berupaya mengungkap asal virus. Mengingat kapal memulai perjalanan dari Argentina, para ahli menduga kemungkinan keterkaitan dengan virus Andes yang ditemukan di kawasan Amerika Selatan.
Meski demikian, para pakar menilai bahwa wabah ini kecil kemungkinan berkembang menjadi pandemi global, meskipun tetap memerlukan kewaspadaan tinggi dan penanganan cepat.






