Jakarta, Pribhumi.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan terbaru ke wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Jumat (27/3/2026) pagi waktu setempat.
Laporan media Lebanon yang dikutip dari AFP menyebutkan, sejumlah ledakan keras terdengar di kawasan tersebut. Koresponden AFP di lapangan juga mengonfirmasi adanya beberapa dentuman yang berasal dari wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis pertahanan Hizbullah.
Rekaman visual dari AFPTV memperlihatkan kepulan asap tebal membumbung tinggi dari lokasi yang menjadi sasaran serangan. Sebelumnya, Israel memang telah mengeluarkan peringatan evakuasi besar-besaran, namun tidak ada pemberitahuan khusus menjelang serangan terbaru ini.
Situasi semakin memanas setelah Hizbullah secara tegas menolak perundingan gencatan senjata. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan membuka ruang negosiasi selama serangan Israel masih berlangsung di wilayah Lebanon.
Di sisi lain, Israel terus meningkatkan operasi militernya. Selain serangan udara, pasukan darat juga dilaporkan bergerak hingga ke wilayah Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel-Lebanon.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi menciptakan “zona keamanan nyata” guna mencegah ancaman serangan ke wilayah Israel.
“Kami sedang memperluas zona penyangga untuk mencegah infiltrasi darat dan serangan rudal ke Israel,” ujar Netanyahu dalam pernyataan video resminya.
Sementara itu, Hizbullah mengklaim telah melancarkan puluhan serangan balasan terhadap pasukan Israel. Kelompok tersebut juga menyebut telah menembakkan roket ke wilayah Israel tengah, meskipun laporan media Israel menyebut seluruh roket berhasil dicegat.
Dalam perkembangan terbaru, Hizbullah mengungkapkan bahwa lebih dari 80 serangan telah dilancarkan dalam satu hari, menjadikannya sebagai intensitas serangan tertinggi sejak konflik terbaru pecah pada awal Maret 2026.











