JAKARTA, Pribhumi.com — Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah memperkuat pengelolaan fiskal dan meningkatkan kinerja penerimaan negara.
Sejumlah ekonom memberikan pandangan berbeda mengenai alasan di balik pergantian tersebut. Ada yang menilai keputusan itu berkaitan dengan persoalan koordinasi internal di lingkungan Kementerian Keuangan, sementara pandangan lain melihatnya sebagai bagian dari penyegaran pemerintahan menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudistira, menyebut persoalan koordinasi internal menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan.
Menurut Bhima, terdapat perbedaan pandangan terkait sejumlah kebijakan di lingkungan Kementerian Keuangan, termasuk persoalan pergantian pejabat eselon II dan mekanisme restitusi pajak.
Ia mengatakan, kebijakan penahanan restitusi pajak yang semula dikaitkan dengan pemeriksaan sektor sumber daya alam kemudian berdampak lebih luas ke sektor usaha lainnya. Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan ketidakpuasan dari kalangan pelaku usaha.
Selain persoalan internal, Bhima juga menyinggung hubungan antara Kementerian Keuangan dengan Danantara mengenai setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp120 triliun.
Menurutnya, dinamika tersebut turut menjadi bagian dari evaluasi terhadap pola koordinasi dan komunikasi dalam pengelolaan kebijakan fiskal.
Bhima juga menilai gaya kepemimpinan dan komunikasi Purbaya menjadi salah satu aspek yang kemungkinan ikut dipertimbangkan pemerintah dalam keputusan reshuffle.
Namun, pandangan berbeda disampaikan Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad.
Tauhid melihat pergantian tersebut sebagai bagian dari dinamika pemerintahan sekaligus upaya menghadirkan penyegaran dalam pengelolaan fiskal nasional.
Ia menilai pemerintah membutuhkan figur yang mampu mendorong peningkatan penerimaan negara, memperbaiki kualitas belanja, sekaligus menjaga defisit anggaran tetap terkendali.
Dalam konteks tersebut, Suahasil dinilai memiliki modal pengalaman karena telah lama berada di lingkungan Kementerian Keuangan. Sebelum dipercaya sebagai Menteri Keuangan, Suahasil dikenal pernah menduduki posisi Wakil Menteri Keuangan dalam pemerintahan sebelumnya.
Pengalaman panjang di internal kementerian tersebut dinilai dapat menjadi keuntungan karena Suahasil telah memahami mekanisme kerja, persoalan birokrasi, serta tantangan pengelolaan fiskal dari dalam institusi.
Tauhid menilai pengalaman tersebut berpotensi menjadi modal bagi Suahasil untuk menjalankan agenda perubahan yang diharapkan pemerintah.
Dengan demikian, pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan tidak hanya dapat dilihat dari sisi pergantian figur, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pemerintah menghadapi tantangan penerimaan negara, kualitas belanja, pengendalian defisit, serta koordinasi kebijakan ekonomi.
Berbagai pandangan ekonom tersebut menunjukkan bahwa alasan di balik reshuffle dapat dilihat dari sejumlah perspektif. Keputusan akhir pemerintah tentu menjadi kewenangan Presiden dan akan terlihat melalui arah kebijakan fiskal yang dijalankan oleh Menteri Keuangan yang baru.






