Jakarta, Pribhumi.com – Penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 semakin dekat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Observatorium Bosscha dari Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali merilis kajian astronomi sebagai rujukan penting dalam penentuan awal bulan Syawal di Indonesia.
Secara astronomi, pergantian dari Ramadan ke Syawal ditandai dengan kemunculan hilal atau bulan sabit muda yang diamati melalui metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan langsung).
Berdasarkan perhitungan posisi Bulan terhadap Matahari pada 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, posisi Bulan berada sangat dekat dengan Matahari di langit barat saat Matahari terbenam. Kondisi ini membuat peluang terlihatnya hilal menjadi cukup menantang.
Dari hasil analisis, elongasi geosentrik atau jarak sudut Bulan terhadap Matahari dari pusat Bumi di wilayah Indonesia berkisar antara 4,6° hingga 6,2°. Sementara elongasi toposentrik, yakni dari sudut pandang pengamat di permukaan Bumi, berada di kisaran 4,0° hingga 5,5°.
Tak hanya itu, ketinggian Bulan saat Matahari terbenam juga tergolong rendah, yakni antara 0° hingga 3° di atas ufuk, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat. Posisi ini menunjukkan bahwa hilal berada sangat dekat dengan Matahari dan sulit untuk diamati dengan mata telanjang.
Secara ilmiah, kondisi tersebut masuk dalam kategori batas kritis visibilitas hilal. Artinya, keberhasilan pengamatan sangat bergantung pada kondisi cuaca, kejernihan atmosfer, serta pengalaman dan metode yang digunakan oleh para pengamat.
Untuk memastikan kondisi tersebut, tim Observatorium Bosscha akan melakukan pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di Lembang. Selain itu, dengan dukungan Kementerian Agama Republik Indonesia, pengamatan juga dilakukan di Observatorium Lhok Nga, Aceh.
Pemilihan Aceh sebagai lokasi pengamatan didasarkan pada posisi Bulan di wilayah tersebut yang berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal yang saat ini digunakan. Hal ini penting untuk memverifikasi langsung batas kemampuan pengamatan hilal.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari riset jangka panjang yang dilakukan Observatorium Bosscha guna memperkaya data ilmiah terkait visibilitas hilal di Indonesia.











