Hamas kritik resolusi DK PBB, penolakan mekanisme perwalian Gaza, Pasukan Stabilisasi Internasional, ISF Gaza

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 24 November 2025 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Moskow, Pribhumi.com Hamas kembali menyuarakan penolakannya terhadap langkah terbaru Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang mengesahkan resolusi mengenai skema pemulihan dan stabilisasi Gaza. Menurut kelompok tersebut, keputusan itu tidak sejalan dengan keinginan rakyat Palestina dan justru mengabaikan hak-hak fundamental mereka.

Dalam pernyataan resmi pada Senin (17/11), Hamas menegaskan bahwa kebijakan yang diadopsi PBB tersebut “tidak mencerminkan tuntutan politik maupun kebutuhan kemanusiaan warga Gaza,” terutama mereka yang telah lama mengalami dampak konflik berkepanjangan.

Baca Juga :  Arab Saudi Terapkan Regulasi Ketat Umrah Ramadan 2026, Prioritaskan Keamanan dan Kenyamanan Jemaah

Hamas juga menolak mekanisme perwalian internasional yang menjadi salah satu poin utama dalam resolusi tersebut. Mereka menyebut rancangan itu sebagai upaya untuk menempatkan Gaza di bawah otoritas asing yang tidak mendapat legitimasi dari masyarakat atau faksi-faksi Palestina.

Resolusi DK PBB yang disponsori Amerika Serikat itu menyetujui pembentukan International Stabilisation Force (ISF), pasukan stabilisasi internasional yang akan menjalankan mandat selama dua tahun di Gaza. Pasukan tersebut direncanakan bekerja sama dengan Israel dan Mesir dalam menjalankan tugas-tugas seperti pengamanan perbatasan, perlindungan warga sipil, distribusi bantuan kemanusiaan, peningkatan kapasitas kepolisian Palestina, serta pengawasan proses pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata, termasuk Hamas.

Baca Juga :  12 Serangan Brutal Israel ke Qatar tewaskan enam orang anggota biro politik Hamas

Dari 15 anggota DK PBB, sebanyak 13 negara mendukung resolusi tersebut, sementara Rusia dan China memilih untuk abstain.

Sumber: Sputnik–OANA

Berita Terkait

Gelombang Panas Ekstrem Hantam Prancis, 40 Orang Tewas Tenggelam Saat Warga Cari Kesejukan
Pemerintah Pastikan Perlindungan TKW YY Korban Penganiayaan di Malaysia Meski Berangkat Lewat Jalur Nonprosedural
Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah
Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen
Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran
Sanksi Chip AS Berbalik Arah, Huawei Siapkan Teknologi Setara 1,4 Nanometer
Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh Berjam-jam, Ribuan Pelancong Terjebak Antrean Panjang di Perbatasan
PBB Peringatkan Dunia Hadapi Rekor Suhu Panas Baru hingga 2030, El Nino Diprediksi Menguat

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:00 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Hantam Prancis, 40 Orang Tewas Tenggelam Saat Warga Cari Kesejukan

Selasa, 16 Juni 2026 - 07:41 WIB

Pemerintah Pastikan Perlindungan TKW YY Korban Penganiayaan di Malaysia Meski Berangkat Lewat Jalur Nonprosedural

Senin, 8 Juni 2026 - 01:00 WIB

Hoaks dan Ketidakpercayaan Hambat Penanganan Wabah Ebola di Kongo, Ratusan Kasus Terus Bertambah

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Ekspor Indonesia Terancam, Trump Usulkan Bea Masuk Tambahan 10 Persen

Rabu, 3 Juni 2026 - 13:00 WIB

Trump Murka kepada Netanyahu, Serangan Israel ke Lebanon Dinilai Ancam Diplomasi AS-Iran

Berita Terbaru

Budaya dan Wisata

IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:00 WIB