KERINCI, Pribhumi.com — Permasalahan sampah pasca perayaan Idulfitri di Kabupaten Kerinci kembali mencuat ke permukaan. Sejumlah titik pembuangan liar dipenuhi tumpukan sampah yang tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengotori aliran sungai di beberapa wilayah.
Kondisi ini menuai sorotan dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang melakukan pemantauan langsung di lapangan. Aktivis lingkungan Zalmiyanto menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja Satuan Tugas (Satgas) yang dibentuk oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kerinci, karena dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan dalam penanganan sampah.
“Satgas Kebersihan Lebaran gagal total” Ungkap Zalmiyanto.
Selain itu, LSM PEDAS dan LSM LIMBAH turut menemukan adanya pencemaran serius di sejumlah anak sungai, terutama di bantaran Sungai Batang Merao dan kawasan Siulak Gedang. Tumpukan sampah yang diduga berasal dari aktivitas pasar terlihat menumpuk dan dibiarkan tanpa pengelolaan yang memadai.
Ketua LSM PEDAS, Efyarman menilai lemahnya pengawasan dari pihak terkait menyebabkan sampah pasar dibuang langsung ke sungai. Hal ini diperparah dengan pengakuan warga setempat yang menyebutkan bahwa sampah pasar jarang diangkut oleh pihak berwenang, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Akibatnya, pengelola pasar mengambil langkah sendiri dengan membuang sampah ke aliran sungai. Praktik ini disebut telah berlangsung sejak akhir 2025 hingga kini, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampak pencemaran yang semakin meluas, terutama saat musim hujan tiba.
“Selama lebaran sampah menumpuk dan tidak pernah di ambil di DanauKerinci. Jangan cuman Selfie hasilnya Nol” Sebut Ketua LSM LIMBAH, Martias.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kerinci, Neneng Susanti, menyatakan bahwa pihaknya tidak menutup mata terhadap kondisi yang terjadi. Ia mengakui adanya lonjakan volume sampah yang signifikan pasca Lebaran, terutama dari sektor rumah tangga dan pasar.
Menurutnya, peningkatan volume sampah tersebut melampaui kapasitas normal pengangkutan, yang diperparah oleh masih adanya kebiasaan membuang sampah sembarangan, keterbatasan armada serta sumber daya manusia, dan belum optimalnya sistem pengelolaan di tingkat lokal.
Meski mendapat kritik, DLH menegaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pembentukan Satgas khusus dan pengangkutan intensif di sejumlah titik prioritas. Namun, kondisi saat ini dinilai sebagai tanda perlunya pembenahan sistem secara menyeluruh, bukan semata kegagalan.
Sebagai langkah cepat, DLH telah melakukan pembersihan di titik-titik penumpukan sampah, menambah armada sementara, serta berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan pengelola pasar untuk memastikan pengangkutan rutin. Penertiban lokasi pembuangan liar juga dilakukan bersama aparat dan pemerintah desa.
Untuk jangka menengah dan panjang, DLH akan fokus pada perbaikan sistem pengelolaan sampah melalui program pemilahan sampah dari sumber, optimalisasi TPS3R di setiap kecamatan, serta penguatan peran pemerintah kecamatan dalam pengelolaan sampah.
Selain itu, penataan sistem pengelolaan sampah di pasar dan edukasi kepada masyarakat menjadi prioritas, termasuk kampanye agar warga tidak lagi membuang sampah ke sungai.
DLH juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari LSM, media, tokoh masyarakat, hingga pengelola pasar untuk bersama-sama mencari solusi. Menurut Neneng, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan memindahkan, tetapi harus ditangani dari sumbernya agar tidak terus berulang di masa mendatang.











