AI Mulai Diarahkan Untuk Mendukung Konservasi Budaya

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 20 November 2025 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Pribhumi.com Direktur Eksekutif Museum dan Cagar Budaya Indonesian Heritage Agency (IHA), Indira Estiyanti Nurjadi, menekankan pentingnya integrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam upaya pelestarian warisan budaya nasional.

Dalam sesi temu media di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat, Estiyanti menyampaikan bahwa perkembangan AI perlu mulai diarahkan untuk mendukung konservasi budaya. Menurutnya, pemanfaatan teknologi ini dapat menjadi solusi baru dalam mempercepat pemugaran berbagai situs bersejarah.

IHA sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas museum, cagar budaya, dan berbagai aset arkeologis—termasuk deretan candi—menghadapi tantangan signifikan dalam proses pemugaran. Salah satu kendala utama adalah semakin berkurangnya jumlah tenaga pemahat batu (stone mason). Di Pulau Jawa, kata Estiyanti, jumlah tenaga ahli yang benar-benar terampil diperkirakan tidak mencapai 20 orang.

Baca Juga :  Jambi Raih Predikat Tertinggi Opini Ombudsman 2025, Tanpa Maladministrasi

Melihat kondisi tersebut, Estiyanti meyakini bahwa teknologi AI dapat menjadi alat bantu yang efektif bagi para arkeolog dan pemugar. AI dinilai mampu mempercepat proses identifikasi jenis batu, rekonstruksi bentuk batu yang telah rusak, hingga membantu menyusun kembali struktur candi.

Ia mencontohkan kondisi di kawasan Candi Plaosan yang memiliki sekitar 200 perwara, serta di Prambanan yang memiliki sekitar 180 perwara. Saat ini sebagian besar masih berupa tumpukan batu yang belum tersusun. Satu perwara—candi kecil—dapat membutuhkan waktu 10 bulan hingga satu tahun untuk direkonstruksi secara manual.

Baca Juga :  Aplikasi Mammora Bantu Perempuan Deteksi Dini Kanker Payudara Lewat SADARI

“Kalau kita hitung, menyelesaikan ratusan perwara bisa memakan waktu hingga ratusan tahun. Dengan teknologi yang semakin maju, masa kita tidak bisa mempercepat proses ini?” ujarnya.

Estiyanti berharap pelaku industri AI dapat mengembangkan teknologi khusus yang ditujukan untuk konservasi benda-benda budaya. Ia menilai kolaborasi antara ahli cagar budaya dan industri teknologi sangat dibutuhkan agar pelestarian warisan budaya Indonesia dapat dilakukan lebih cepat, akurat, dan efisien.

 

Berita Terkait

Perusahaan Energi Didukung Bill Gates Ajukan Lisensi Reaktor Fusi “Matahari Buatan” Infinity One
Toyota Innova Crysta 2026 Resmi Meluncur
Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor
Mitsubishi Pajero Cross-Country Siap Comeback 2026
Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar
Tata Tiago 2026 Meluncur, Hatchback Murah Seharga Rp87 Jutaan
Pemerintah Matangkan Implementasi B50 Lewat Uji Teknis di Berbagai Sektor Industri
YellowKey Ancam BitLocker Windows 11, Peneliti Klaim Bisa Bobol Enkripsi Tanpa Password

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:00 WIB

Perusahaan Energi Didukung Bill Gates Ajukan Lisensi Reaktor Fusi “Matahari Buatan” Infinity One

Jumat, 5 Juni 2026 - 15:00 WIB

Toyota Innova Crysta 2026 Resmi Meluncur

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:00 WIB

Pasar Mobil China Mulai Jenuh, Penjualan Melambat dan Produsen Beralih ke Ekspor

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:00 WIB

Mitsubishi Pajero Cross-Country Siap Comeback 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 - 23:00 WIB

Meta Resmi Luncurkan Facebook, Instagram, dan WhatsApp Berbayar

Berita Terbaru