Jambi, Pribhumi.com – Risiko kanker payudara masih menjadi ancaman serius bagi perempuan di Indonesia. Data menunjukkan bahwa satu dari sepuluh perempuan berpotensi mengalami penyakit ini. Sayangnya, sebagian besar kasus baru diketahui ketika sudah berada pada stadium lanjut, sehingga penanganannya menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan menurun.
Kondisi tersebut mendorong Shani bersama timnya mengembangkan Mammora, sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu perempuan melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) secara mandiri, mudah, dan terjadwal.
Shani, selaku Project Manager Mammora, mengungkapkan bahwa ide ini berangkat dari pengalaman pribadi timnya. Salah satu anggota tim pernah mengalami tumor payudara di usia muda dan harus menjalani operasi. Pengalaman tersebut menjadi pemicu untuk menciptakan solusi agar perempuan lain dapat lebih cepat mengenali tanda-tanda awal.
Mammora hadir dengan fitur utama yang menjawab kebingungan umum seputar SADARI, mulai dari cara melakukan pemeriksaan, bagian yang perlu diperhatikan, hingga waktu terbaik untuk melakukannya.
Aplikasi ini menyediakan dua metode pemeriksaan, yakni pemeriksaan visual di depan cermin untuk melihat perubahan fisik seperti warna kulit atau bentuk, serta pemeriksaan sentuhan dalam posisi berbaring yang mengikuti panduan medis dari WHO dan Kementerian Kesehatan.
Keunggulan Mammora terletak pada integrasinya dengan siklus menstruasi pengguna. Aplikasi akan secara otomatis memberikan pengingat waktu ideal melakukan SADARI, yakni pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama menstruasi, saat kondisi payudara lebih rileks dan mudah diperiksa.
Setelah melakukan pemeriksaan, pengguna akan mendapatkan laporan yang dapat disimpan sebagai catatan kesehatan. Jika ditemukan hal mencurigakan, pengguna bisa menandai lokasi pada model 3D payudara di aplikasi. Data tersebut dapat digunakan sebagai referensi saat berkonsultasi dengan tenaga medis.
Dalam proses pengembangan, tim Mammora juga melibatkan tenaga profesional, termasuk dokter bedah umum dr. Daniel di Jakarta. Salah satu fokus utamanya adalah penggunaan bahasa yang ramah, tidak menakutkan, namun tetap sesuai kaidah medis.
Selain itu, dukungan dari Apple Developer Academy turut membantu pengembangan teknologi dan memperluas jaringan kolaborasi dengan komunitas kesehatan.
Sejak diluncurkan, aplikasi Mammora telah diunduh lebih dari 100 kali. Tim juga aktif melakukan edukasi melalui berbagai kegiatan, termasuk pameran dan kerja sama dengan mahasiswa kedokteran untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini kanker payudara.
Ke depan, Mammora tidak hanya akan berfokus pada pencegahan, tetapi juga berupaya menghadirkan fitur pendamping bagi pengguna yang menemukan gejala dan membutuhkan langkah lanjutan.
Kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan juga menjadi target jangka panjang, meski saat ini tim masih memprioritaskan penguatan dampak nyata aplikasi di masyarakat.
Shani menegaskan, tujuan utama pengembangan Mammora adalah sederhana, yakni membantu menurunkan angka kematian akibat kanker payudara melalui deteksi dini yang lebih efektif.











