JAMBI, Pribhumi.com – World Health Organization atau WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan global.
Penetapan status tersebut dilakukan setelah otoritas kesehatan setempat melaporkan sekitar 246 kasus suspek dengan 80 kematian akibat wabah ebola yang terus berkembang.
Meski situasi dinilai serius, WHO menegaskan bahwa status PHEIC berbeda dengan pandemi global seperti COVID-19.
Pakar epidemiologi dan Global Health Security dari Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan Indonesia belum perlu mengambil langkah ekstrem seperti menutup total akses perbatasan internasional.
Namun, menurutnya, pemerintah perlu memperketat sistem pengawasan dan pemeriksaan kesehatan di seluruh pintu masuk negara.
“Indonesia tidak perlu melakukan penutupan total perbatasan. Tapi standar pengetatan atau screening di pintu masuk kita, baik bandara, pelabuhan laut, jalur migrasi pekerja hingga jemaah haji dan umrah, memang harus dijaga ketat kualitasnya,” ujar Dicky Budiman, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan risiko masuknya virus ebola ke Indonesia saat ini masih berada pada kategori rendah hingga menengah. Ancaman utama berasal dari mobilitas internasional seperti penerbangan, pekerja migran, pelaut, maupun pelaku perjalanan bisnis yang transit dari wilayah terdampak.
Untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran, Dicky meminta pemerintah segera memperkuat sejumlah langkah strategis, di antaranya sistem screening berbasis risiko dengan memantau riwayat perjalanan 21 hari terakhir dari wilayah episentrum wabah.
Selain itu, pemeriksaan harus difokuskan pada gejala seperti demam akut, pendarahan, atau riwayat kontak dengan pasien maupun satwa liar.
Pemerintah juga diminta memastikan kesiapan laboratorium berstandar BSL-3 dan BSL-4 untuk melakukan uji PCR filovirus secara cepat dan akurat.
Di sisi lain, rumah sakit rujukan perlu meningkatkan simulasi penanganan wabah, audit pencegahan infeksi, serta kesiapan alat pelindung diri (APD) dan ruang isolasi tekanan negatif.
“Banyak pelajaran di masa pandemi. Negara gagal bukan karena virus terlalu kuat, tetapi karena sistem kesehatan terlambat bereaksi,” kata Dicky.
Editor : Safwandi., Dpt






