Paris, Pribhumi.com — Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis membawa dampak tragis. Sedikitnya 40 orang dilaporkan meninggal dunia sejak 18 Juni 2026, dengan sebagian besar korban berasal dari kalangan muda. Banyak dari mereka kehilangan nyawa akibat tenggelam saat mencoba menghindari suhu panas dengan berenang.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyebut kondisi tersebut sebagai bencana tragis. Pernyataan itu disampaikan setelah pemerintah menggelar rapat darurat untuk membahas dampak cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah negara tersebut.
“Angka terbaru yang kami terima menunjukkan terdapat 40 kematian sejak 18 Juni, sebagian besar terjadi pada kalangan anak muda,” ujar Lecornu dalam pertemuan tersebut.
Menurutnya, para korban menjadi kelompok pertama yang merasakan dampak serius dari krisis cuaca ekstrem yang sedang dihadapi Prancis.
Selain menelan korban jiwa, gelombang panas juga mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah setempat terpaksa melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk menutup sejumlah sekolah serta mengganggu perjalanan transportasi akibat kondisi cuaca yang berbahaya.
Menteri Olahraga dan Pemuda Prancis Marina Ferrari juga mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan keselamatan ketika memilih berenang sebagai cara untuk menghadapi suhu panas. Ia menyebut terdapat puluhan kasus tenggelam sejak akhir pekan ketika warga mencari lokasi yang lebih sejuk.
Badan meteorologi Prancis, Meteo-France, melaporkan negara tersebut mencatat malam dengan suhu tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1947. Pada Selasa pagi, indikator suhu nasional yang dihitung dari 30 stasiun pengamatan mencapai rata-rata 21,6 derajat Celsius.
Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 21,4 derajat Celsius yang tercatat pada 25 Juli 2019.
Pemerintah Prancis kini terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko kesehatan akibat suhu ekstrem serta bahaya aktivitas di area perairan selama gelombang panas berlangsung.






