JAMBI, Pribhumi.com — Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi memindahkan uranium yang telah diperkaya ke China di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat terkait program nuklir Teheran.
Laporan sejumlah media internasional menyebutkan, wacana tersebut muncul setelah pemerintah Amerika Serikat meminta Iran untuk memusnahkan atau memindahkan cadangan uranium yang telah diperkaya ke negara lain. Uranium diperkaya sendiri merupakan bahan utama yang dapat digunakan dalam pengembangan senjata nuklir.
Dikutip dari Jerusalem Post, permintaan itu disampaikan Washington dalam rangkaian negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini masih berlangsung.
Meski demikian, pemerintah China belum memberikan konfirmasi maupun bantahan terkait kemungkinan pemindahan uranium Iran ke negaranya. Pernyataan Kementerian Luar Negeri China justru dinilai membuka peluang terhadap opsi tersebut.
Dalam konferensi pers pada Selasa (26/5/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan Beijing terus menjalin komunikasi intensif dengan seluruh pihak terkait sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas.
“China terus bekerja tanpa lelah untuk menghentikan konflik dan mendorong terciptanya perdamaian,” ujar Mao Ning dalam keterangan resmi yang dirilis kementerian.
Ia menambahkan bahwa China tetap berpegang pada proposal empat poin Presiden Xi Jinping untuk mendorong stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah serta Teluk.
Terkait isu nuklir Iran, Mao menegaskan bahwa China secara konsisten mendukung penyelesaian damai melalui jalur dialog dan negosiasi.
“China berharap seluruh pihak dapat memanfaatkan momentum ini untuk mencapai solusi yang mempertimbangkan kepentingan sah semua pihak melalui perundingan,” katanya.
Selain itu, China juga menyatakan siap memainkan peran konstruktif dalam penyelesaian diplomatik terkait program nuklir Iran serta menjaga rezim nonproliferasi nuklir internasional.
Hingga kini, belum ada kepastian apakah opsi pemindahan uranium ke China benar-benar menjadi sikap resmi Iran dalam proses negosiasi atau hanya bagian dari strategi diplomatik untuk menguji respons Amerika Serikat.
Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.
Sebelumnya, dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015 pada masa Presiden Barack Obama, sebagian besar uranium Iran dipindahkan ke Rusia.
Namun, situasi berubah setelah Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut pada periode pertamanya menjabat. Langkah itu membuat Iran kembali mempercepat pengembangan program nuklir dan pengayaan uranium.
Editor : Safwandi., Dpt






