Palembang, Pribhumi.com – Angkatan Bersenjata Iran dilaporkan meluncurkan sejumlah rudal balistik canggih jenis Sejjil ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Rudal tersebut disebut digunakan untuk pertama kalinya sejak konflik bersenjata pecah pada akhir Februari 2026.
Media internasional Al Jazeera melaporkan bahwa Iran mengerahkan rudal Sejjil dalam serangan balasan terhadap operasi militer gabungan AS dan Israel. Peluncuran rudal ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan tersebut, rudal Sejjil menggunakan bahan bakar padat, yang membuat proses peluncurannya lebih cepat serta lebih sulit dideteksi maupun dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Informasi itu juga diperkuat oleh media pemerintah Iran, Press TV. Dalam laporannya disebutkan bahwa rudal Sejjil diluncurkan sebagai bagian dari gelombang ke-54 operasi militer bertajuk “True Promise 4” yang menargetkan kepentingan Israel dan Amerika Serikat.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat mengumumkan bahwa serangan balasan tersebut dijalankan dengan sandi operasi “Ya Zahra”.
IRGC menyebut berbagai jenis rudal dikerahkan dalam operasi itu, termasuk rudal berat Khorramshahr yang memiliki hulu ledak ganda. Selain itu, Iran juga menggunakan rudal jenis Kheybar, Qadr, dan Emad.
Press TV menyatakan rudal Sejjil menjadi salah satu senjata utama yang digunakan Iran sejak konflik dengan AS dan Israel dimulai pada akhir Februari. Target serangan disebut meliputi pusat komando dan kendali militer Israel serta sejumlah infrastruktur strategis.
Berdasarkan laporan NDTV, Sejjil merupakan rudal balistik jarak menengah dengan dua tahap peluncuran dan menggunakan bahan bakar padat. Rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer dengan kapasitas muatan hingga 700 kilogram.
Kemampuan manuver rudal tersebut di ketinggian juga membuatnya dijuluki “dancing missile”, karena dinilai mampu menghindari sistem pertahanan udara seperti Iron Dome milik Israel.
Sementara itu, Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menyebut rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter sekitar 1,25 meter, serta bobot mencapai 23.600 kilogram.
Desain berbahan bakar padat yang digunakan rudal ini memberikan keunggulan strategis karena memungkinkan proses persiapan dan peluncuran dilakukan lebih cepat dibandingkan rudal yang menggunakan bahan bakar cair.











